Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peringatan 20 Tahun Gempa Dahsyat Bantul, Pelajaran Apa dari Peristiwa ini? Pemkab Perkuat Mitigasi Bencana, Brandingnya Siap untuk Selamat

Cintia Yuliani • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:08 WIB
EPISENTRUM: Monumen gempa bumi 27 Mei 2006 di Padukuhan Potrobayan, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Bantul. Cintia Yuliani/Radar Jogja
EPISENTRUM: Monumen gempa bumi 27 Mei 2006 di Padukuhan Potrobayan, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Bantul. Cintia Yuliani/Radar Jogja

 

 

 

BANTUL - Meski telah terjadi 20 tahun lalu, masyarakat Jogjakarta, khususnya Bantul, masih ingat betul peristiwa pada hari Sabtu, 27 Mei pukul 05.53 itu.

Ya, gempa dahsyat menggoncang DIJ-Jateng dengan Magnitudo 5,9 dan kedalaman 10 km. Gempa itu menimbulkan korban jiwa lebih dari 5.000 orang dan ribuan rumah serta bangunan ambruk rata dengan tanah.

 Memperingati dua dasawarsa gempa besar itu, pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa memilukan ini, berikut liputan Radar Jogja.

Gempa bumi yang mengguncang Bantul 2006 silam masih meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat. 

Baca Juga: Sunarto, Tertimbun Reruntuhan hingga Lumpuh  karena Gempa Dahsyat Bantul 2006; Bangkit dan Berkarya, Kini Aktif di Organisasi Kebencanaan

Tragedi itu kini menjadi pengingat penting bagi Pemkab Bantul untuk terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa di masa mendatang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Mujahid Amrudin mengatakan, Pemkab Bantul telah melakukan berbagai langkah mitigasi guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi. 

Mulai September 2025 hingga April 2026, pihaknya telah menerbitkan surat edaran bupati terkait kesiapan menghadapi gempa bumi. 

 "Surat itu ditujukan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap potensi bencana,” ujar Mujahid, Senin (25/5).

Selain menerbitkan surat edaran, BPBD Bantul juga telah menyusun dokumen mitigasi gempa untuk wilayah yang dilalui Sesar Opak maupun jalur pecahannya. 

Simulasi gempa juga terus digencarkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Menurut Mujahid, hingga saat ini tercatat sekitar 75 ribu warga Bantul telah mengikuti simulasi gempa. 

Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai sekolah, organisasi, perusahaan, hingga instansi pemerintah.

“Harapannya, simulasi ini menjadi bagian dari kewaspadaan masyarakat ketika sewaktu-waktu terjadi gempa,” jelasnya.

Baca Juga: Berkendara Sambil Bawa Celurit, Dua Pelajar Anggota GB Mistery-Allstar Kebumen Diamankan Polisi

Simulasi ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun gempa Bantul yang dipusatkan di Padukuhan Potrobayan, Srihardono, Pundong. 

Tempat ini diyakini sebagai episentrum atau pusat gempa  20 tahun lalu itu. 

Peringatan telah digelar 22 hingga 23 Mei 2026 dengan berbagai kegiatan edukatif dan sosial. 

Beragam agenda disiapkan, mulai susur Sungai Opak sepanjang sekitar delapan kilometer, pameran foto dan video gempa, donor darah, cek kesehatan gratis bagi masyarakat di Kalurahan Panjangrejo, Sitimulyo, dan Sriharjo, hingga pameran peralatan kebencanaan yang melibatkan BPBD dan tim SAR.

Tak hanya itu, digelar pula bimbingan teknis operasional penanggulangan bencana khusus radiokomunikasi yang difasilitasi Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari).

Sebelumnya, kegiatan kerja bakti masyarakat di kawasan Potrobayan juga telah dilakukan 13 Mei lalu.

Malam puncak acara, BPBD Bantul menggelar sarasehan dan doa bersama yang menghadirkan kepala BMKG, kepala BPBD DIJ, serta Bupati Bantul Abdul Halim Muslih sebagai pembicara.

Mujahid menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan itu bertujuan membangun kesadaran masyarakat bahwa Bantul merupakan wilayah rawan gempa sehingga kesiapsiagaan harus terus ditanamkan. 

]Pihaknya ingin masyarakat sadar bahwa tinggal di wilayah rawan gempa tidak bisa dihindari. Oleh karena itu masyarakat harus selalu waspada dan siap.

"Branding kami adalah siap untuk selamat,” katanya.

Baca Juga: Warga Geruduk Kantor Kalurahan Bangunkerto Sleman Pasang Spanduk Protes, Ada Dugaan Korupsi oleh Pamong

Ia menekankan edukasi mitigasi bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan membangun kesiapan agar masyarakat tetap bisa beraktivitas normal tanpa rasa takut berlebihan.

"Yang penting masyarakat membekali diri dengan pengetahuan saat terjadi gempa,” harapnya. 

Sementara itu, Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta mengatakan, kesiapsiagaan dalam menghadapi gempa di Bantul dengan cara mendorong masyarakat untuk menjadi relawan.

Selain itu  mengajak masyarakat untuk lebih memahami tentang gempa, serta sosialisasi gempa.  

"Di Bantul juga sangat masif dan antusias warga juga luar biasa saat ada sosialisasi gempa," tuturnya. 

Saat peringatan gempa di Potrobayan, antusiasme masyarakat dalam acara ini tinggi. Hal itu membuktikan bahwa masyarakat memiliki kesadaran dan kepedulian yang tinggi terhadap kesiapsiagaan bencana gempa. 

"Jadi Pemkab Bantul mendorong agar nanti, suatu waktu terjadi gempa masyarakat siap," tuturnya. 

Aris juga menceritakan pengalamannya saat gempa besar 27 Mei 2006 terjadi. Saat itu dirinya masih berada di Sleman, setelah melihat erupsi Gunung Merapi.

Baca Juga: IPL Kadaluarsa, Pencairan UGR JJLS di Kulon Progo Mundur Tahun 2027

"Pagi-pagi pulang, salat Subuh lalu tidur. Baru tidur sebentar tiba-tiba ada gempa,” ujarnya yang pada saat itu sedang menjabat inspektorat Pemkab Bantul. 

Karena sebelumnya memantau aktivitas Merapi, dia sempat mengira getaran yang terjadi berasal dari letusan gunung api di perbatasan DIJ-Jateng itu. 

"Ternyata di Bantul, gempa dari Sesar Opak," katanya. (cin/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#insight #gempa jogja