Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sunarto, Tertimbun Reruntuhan hingga Lumpuh  karena Gempa Dahsyat Bantul 2006; Bangkit dan Berkarya, Kini Aktif di Organisasi Kebencanaan

Cintia Yuliani • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:02 WIB
SEMANGAT: Sunarto sedang menjahit tas dari bahan plastik kemasan bekas di rumahnya, Padukuhan Jejeran II, Wonokromo, Pleret, Bantul. Cintia Yuliani/Radar Jogja
SEMANGAT: Sunarto sedang menjahit tas dari bahan plastik kemasan bekas di rumahnya, Padukuhan Jejeran II, Wonokromo, Pleret, Bantul. Cintia Yuliani/Radar Jogja

 


BANTUL - Gempa dahysat yang mengguncang Bantul 2006 silam meninggalkan jejak panjang banyak orang, termasuk Sunarto yang kini harus menjalani hidup dengan kursi roda. 

Sebelum bencana itu terjadi, lelaki 60 tahun ini hidup seperti biasa, bekerja sebagai pedagang siomay keliling, tanpa kendala berarti dalam bergerak.

Semuanya berubah dalam sekejap pada hari itu. Sunarto masih mengingat jelas bagaimana pagi yang semula ia gunakan untuk menyiapkan dagangan justru menjadi titik balik hidupnya. 

Baca Juga: Berkendara Sambil Bawa Celurit, Dua Pelajar Anggota GB Mistery-Allstar Kebumen Diamankan Polisi

Di rumahnya di Padukuhan Jejeran II, Wonokromo, Pleret ia sedang menyalakan empat kompor untuk memasak bahan jualan, sementara istri dan anaknya berada di bagian rumah yang berbeda.

"Saat merasa ada getaran keras, saya keluar rumah dan di dekat pintu rasanya saya seperti dilempar ke luar rumah,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (23/5).

Detik-detik setelah itu berubah menjadi kekacauan. Rumah-rumah di sekitarnya runtuh dan material bangunan di depan rumahnya menimbun sebagian tubuhnya.

 Api yang berasal dari kompor yang masih menyala dengan cepat menjalar, terlebih karena di dekatnya terdapat 20 liter minyak tanah. Dalam waktu singkat, rumah Sunarto ikut dilalap api.

Di tengah situasi genting itu, anak dan istrinya ternyata berada di lokasi berbeda di dalam rumah. Sang anak sedang berada di kamar tidur, sementara istrinya sedang mandi.

 Meski kondisi rumah runtuh dan terbakar, keduanya berhasil selamat. Istrinya bahkan tertimpa rangka atap yang justru menahannya dari kobaran api yang sudah mulai mendekat ke kamar mandi.

Kabar kebakaran dan reruntuhan itu kali pertama disadari para tetangga. Di tengah gempa yang masih terasa, mereka berupaya menolong, memadamkan api, sekaligus mengevakuasi korban yang masih bisa dijangkau, termasuk keluarga Sunarto.

Sunarto sendiri sempat tidak sadar bahwa dirinya tertimbun. Ia sempat berteriak, namun awalnya ia sendiri merasa seperti sedang bermimpi.

"Tapi kok saya enggak bisa bergerak dan sekeliling saya gelap semua. Kalau saya mimpi, kok saya rasa saya sadar,” terangnya.

 Dalam kondisi setengah sadar dan terjebak, ia terus berucap istighfar hingga akhirnya suaranya terdengar oleh warga yang sedang melakukan evakuasi.

 Sekitar satu jam setelah gempa, ia ditemukan dan dibawa keluar dari timbunan reruntuhan, sebelum kemudian dilarikan ke fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Warga Geruduk Kantor Kalurahan Bangunkerto Sleman Pasang Spanduk Protes, Ada Dugaan Korupsi oleh Pamong

Namun perjalanan menuju rumah sakit tidak mudah. Di tengah kepanikan isu tsunami, warga tetap berusaha membawa Sunarto ke rumah sakit rujukan. 

Tantangan lain muncul saat mencari kendaraan dan bahan bakar di situasi listrik padam total.

"Pas dapat mobil, ternyata mobil pikap. Belum berangkat ke rumah sakit, ternyata bensinnya habis karena listrik semua padam,” terangnya.

Akhirnya warga berinisiatif mengumpulkan bensin dari sepeda motor yang ada agar mobil bisa berjalan. 

Sunarto kemudian dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih Jogja, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP Dr Sardjito untuk penanganan lebih lanjut, karena mengalami patah tulang belakang.  

"Biaya pengobatannya saat itu ditanggung pemerintah," tuturnya. 

Selama masa perawatan panjang, ia didampingi sang istri, sementara anak mereka dititipkan kepada tetangga. 

Setelah sekitar dua bulan dirawat, Sunarto diperbolehkan pulang, meski kondisi lingkungan dan rumahnya masih belum pulih. Ia pun sempat tinggal di tenda pengungsian selama kurang lebih tiga minggu.

Di fase pemulihan itulah ia kemudian menjalani terapi di YAKKUM Kaliurang untuk belajar kembali berdiri dan berjalan. 

Perlahan, ia mulai bisa bergerak menggunakan kruk, sekaligus berupaya memulihkan kondisi fisik dan mentalnya di tengah komunitas penyintas gempa.

Baca Juga: Kejar Target, Pembayaran UGR Tol Jogja-YIA di Kalurahan Kaliagung Kulon Progo Dilaksanakan Hingga Malam Hari

Di tempat itu pula, ia menemukan ruang untuk bangkit bersama para penyintas lainnya. Istrinya, Krismiyati, 55, bahkan turut terlibat sebagai relawan karena terbatasnya tenaga medis saat itu. 

 "Cuma memang, menghilangkan rasa trauma itu sangat lama” tuturnya.

 Bagi Sunarto, kehilangan kemampuan bergerak seperti dulu menjadi pukulan berat.

Namun perlahan ia belajar menerima keadaan, terlebih setelah bertemu banyak orang dengan pengalaman serupa di YAKKUM.

Setelah kembali ke rumah, ia sempat terbentur persoalan administrasi bantuan perumahan. 

Program CSR yang diharapkan membangun rumah terkendala karena lahan yang ia tempati merupakan tanah sewa.

Ia akhirnya harus membeli lahan kecil terlebih dahulu sebelum bantuan rumah bisa direalisasikan pada 2007.

Untuk menopang hidup, 2006 hingga 2010 sang istri lebih dulu berjuang dengan berjualan kue sejak subuh ke pasar. 

Baru beberapa tahun kemudian Sunarto kembali bekerja. Awalnya sebagai buruh jahit limbah plastik, sebelum akhirnya mengikuti pelatihan dan mulai merintis usaha sendiri.

“Alhamdulillah bisa jahit terus dapat orderan. Lama-lama, saya bisa mandiri,” tuturnya.

Baca Juga: Bahasa Gen Z untuk Edukasi Safety Riding

Dari usaha sederhana itu, ia kemudian mengembangkan kreativitas bersama istrinya dalam mengolah limbah plastik menjadi berbagai produk seperti tas, dompet, dan topi.

Usaha yang ia rintis sekitar 2010 itu kini dikenal sebagai usaha mandiri berbasis disabilitas, meski produksinya masih bergantung pada pesanan.

Pendapatan yang diperoleh tidak menentu, tergantung jumlah dan jenis pesanan. Harga produk pun bervariasi, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 350 ribu. 

Dalam keseharian, ia dan istrinya saling membantu menyelesaikan setiap pesanan.

“Saya dulu bukan penyandang disabilitas. Tapi, sekarang saya menjadi penyandang disabilitas,” terangnya sambil mata berkaca-kaca.

Kini, kondisi fisiknya semakin terbatas setelah sempat terjatuh di kamar mandi, yang membuatnya lebih banyak beraktivitas menggunakan kursi roda. 

Namun, ia tetap berusaha menjalani hari dengan cara yang masih bisa ia lakukan.

Selain usaha kerajinan, ia juga menerima jasa perbaikan kursi roda. Prinsipnya sederhana selama masih bisa dikerjakan, ia akan mengerjakannya.

Baca Juga: Atasi Masifnya Aksi Klitih Geng Pelajar, DPRD Sarankan Wadah Kompetisi Tinju dan Balap Legal di Kota Jogja 

Lebih dari sekadar bertahan hidup, Sunarto kini juga aktif dalam organisasi kebencanaan dan difabel seperti Difabel Siaga Bencana (Difagana) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). 

Dari sana, ia kerap terlibat dalam pendampingan penyintas bencana di berbagai daerah, membawa pengalaman pribadinya sebagai penguat bagi orang lain yang baru kehilangan. (laz)

Editor : Herpri Kartun
#insight #gempa jogja