BANTUL - Jalan hidup Muhammad Iqbal Firmansyah tak pernah jauh dari seni.
Lahir dan besar di lingkungan keluarga seniman di Banguntapan, ia justru memilih jalur berbeda ketika banyak perajin dan pematung di Jogja berkutat pada karya konvensional.
Iqbal membawa seni ke arah yang lebih hidup, membuat animatronik dinosaurus hingga replika hewan bergerak berukuran raksasa.
Baca Juga: Dua Hari Gelar Operasi, Polres Bantul Sita Ratusan Botol Miras Ilegal di Tiga Tempat
Padahal, latar belakang pendidikannya bukan seni rupa.
Iqbal mengaku hanya lulusan SMK jurusan otomotif dan tidak melanjutkan kuliah.
Namun darah seni dari keluarga membuatnya tetap akrab dengan dunia kreatif sejak kecil.
"Awalnya keluarga memang basic-nya seni. Ada patung, lukis, dan macam-macam.
Mau nggak mau saya ikut belajar dari situ,” ujarnya saat ditemui di Jagad Studio tempat produksinya yang berada di Ngoto, Bangunharjo, Sewon Kamis (21/5).
Sempat merantau ke Sumatera, Iqbal pulang ke Jogja pada 2016 dengan keinginan berkarya di kampung halaman.
Namun ia sadar, Bantul dan Jogja sudah dipenuhi seniman berbakat. Ia pun berpikir keras mencari celah yang berbeda.
"Kalau bikin yang sama, ya susah. Akhirnya cari yang masih berhubungan dengan seni, tapi punya nilai plus dan visual yang beda,” katanya.
Ide itu muncul secara tak sengaja saat ia melihat wahana dinosaurus animatronik di pusat perbelanjaan. Dari sana muncul keinginan membuat karya seni yang bisa bergerak.
Berbekal nekat dan pengetahuan otodidak, Iqbal mulai bereksperimen. Modal terbatas membuatnya tak langsung menciptakan dinosaurus raksasa.
Ia memilih membuat versi kecil terlebih dahulu berupa becak dinosaurus.
Awalnya wahana itu digerakkan menggunakan kayuhan kaki. Kini teknologi produksinya berkembang memakai dinamo dan gas seperti kendaraan bermotor.
Proses awal tak mudah. Pemuda berusia 27 itu menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk trial and error sambil mengerjakan semuanya sendiri.
Titik balik datang pada 2018 ketika karya dinosaurus buatannya diliput televisi lokal dan kemudian tayang di televisi nasional.
"Jam 12 malam teman bilang kalau video saya masuk TV nasional. Besok paginya langsung viral,” kenangnya, sambil tertawa.
Sejak saat itu, pesanan mulai berdatangan dari berbagai daerah. Awalnya Iqbal hanya berniat menjadikan usahanya sebagai home industry kecil.
Namun permintaan pasar terus berkembang.
Tak hanya dinosaurus, kini ia menerima pesanan replika hewan lain, karakter khusus, hingga properti untuk wisata dan museum.
"Awalnya fokus dinosaurus. Tapi ternyata market itu unik. Ada yang pesan bentuk anjing besar, kingkong, kucing, macam-macam.
Dari situ kami sadar peluangnya luas,” jelasnya.
Baca Juga: Hendak Beroperasi, Akses Jalan Objek Wisata Paralayang Giri Sembung Kulon Progo Justru Rusak
Produk buatannya kini tersebar hampir ke seluruh Indonesia. Mulai Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa. Bahkan pernah mendapat pesanan dari Malaysia.
Harga produknya bervariasi, mulai Rp 5 juta untuk ukuran kecil hingga ratusan juta rupiah tergantung ukuran, material, dan sistem gerak yang diminta konsumen.
Dalam sebulan, Iqbal bersama lima pekerjanya mampu memproduksi sekitar 15 unit berbagai ukuran.
Meski demikian, ia mengaku terus beradaptasi agar produksi tetap efisien tanpa meninggalkan kualitas artistik.
"Dulu semua saya kerjakan sendiri, detail seninya tinggi sekali. Sekarang karena sudah ada tim, kami sesuaikan dengan kebutuhan market,” katanya.
Menariknya, pemasaran usaha ini lebih banyak mengandalkan media sosial dan efek viral pemberitaan media. Iqbal mengaku belum pernah mengikuti pameran besar.
Kini, setelah hampir tujuh tahun menjalankan usaha, Iqbal mulai mengarahkan bisnisnya ke segmen yang lebih luas, termasuk museum, perusahaan, hingga instalasi tematik berskala besar.
Saat ini ia telah memiliki dua tempat produksi di Sewon dan Banguntapan dengan dibantu puluhan karyawan.
Baginya, seni bukan sekadar patung diam. Di tangannya, karya seni bisa bergerak, berinteraksi, bahkan menghadirkan pengalaman baru bagi penikmatnya. (laz)
Editor : Herpri Kartun