BANTUL - Seniman yang aktif berkarya tentu memiliki banyak ide untuk menyampaikan pesan melalui karya seni. Namun, tidak selalu tersedia pameran maupun panggung bagi seniman untuk memamerkan karya dan menyampaikan gagasannya kepada khalayak umum.
Seniman asal Magelang, Jawa Tengah M. Aidi Yupri mengatakan, seniman tidak hanya bisa mengandalkan pameran untuk menuangkan ide kreatifnya. Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu menyebut berbagai kompetisi seni juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan melalui karya.
Salah satu prestasi yang pernah diraihnya adalah menjadi pemenang Grand Prize kategori Umum dalam MR.D.I.Y. Art Competition 2025 tingkat nasional, serta meraih Judges Pick Award di tingkat regional.
Selain mendapatkan hadiah, kemenangan dalam kompetisi juga membuka peluang pesanan karya yang lebih banyak dan memperluas jejaring.
"Jejaring antara kolektor pemilik galeri, jejaring seni rupa saya semakin luas selain itu ada kesempatan berpameran di tingkat regional di Malaysia," katanya saat menjadi pemateri Workshop MR.D.I.Y. Art Competition 2026 di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Jogjakarta Senin (18/5).
Ia menambahkan, pencapaian tersebut turut memperkenalkan ide dan karya seni rupa Indonesia ke tingkat yang lebih luas. Menurutnya, banyak dampak positif yang dirasakan, baik bagi dirinya maupun dunia seni rupa.
Dalam workshop tersebut, ia mengajak mahasiswa seni rupa yang kesulitan mencari ruang untuk menuangkan ide agar mencoba mengikuti berbagai kompetisi seni visual.
Menurutnya, mengikuti lomba tidak hanya memberikan keuntungan materi, tetapi juga menjadi proses pembelajaran dan evaluasi terhadap karya yang dibuat. Dengan begitu, kemampuan berkarya dan menggambar akan terus berkembang.
"Bisa jadi ruang belajar introspeksi capaian kita sejauh mana karya yang dibuat dapat menarik bagi orang lain." katanya.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat menciptakan karya yang berhasil memenangkan kompetisi. Menurutnya, proses kreatif dimulai dari pemikiran tentang keberagaman dan bagaimana keberagaman tersebut dikelola. Ia memilih bongkahan kayu sebagai material utama, kemudian merakit dan menyusunnya hingga menjadi sebuah konstruksi yang saling menguatkan namun tetap harmonis.
Baginya, karya tersebut merepresentasikan kondisi bangsa Indonesia yang kaya akan keberagaman. Kedekatannya dengan alam juga menjadi alasan mengapa unsur-unsur alam banyak muncul dalam karya yang ia ciptakan.
"Saya memandang sebagai potensi untuk menjadi identitas yang unik namun saling menguatkan," katanya.
Ia menilai, salah satu tips memenangkan kompetisi adalah mengenali diri sendiri, mulai dari kegemaran, kecenderungan berkarya, hingga gaya seni yang paling sesuai dengan passion. Dengan memahami diri sendiri dan berani jujur terhadap proses berkarya, seseorang dapat menghasilkan karya yang kuat dan autentik.
Saat ini, ia telah mengikuti berbagai pameran di sejumlah negara, seperti Korea Selatan, Belgia, Malaysia, dan Vietnam. Kesempatan tersebut, menurutnya, juga tidak lepas dari pengalaman mengikuti berbagai kompetisi seni yang membawanya tampil di ajang internasional.
Ia menambahkan, mahasiswa seni rupa ISI Jogjakarta maupun masyarakat umum masih dapat mengikuti kompetisi yang pernah diikutinya di tahun ini. Pendaftaran kompetisi tersebut masih dibuka hingga Juni mendatang dengan total hadiah mencapai ratusan juta rupiah.
"Semoga karya seni yang diciptakan bisa disuarakan ke hal layak yang lebih luas. Terutama di lingkup nasional dan regional," pungkasnya. (cin)
Editor : Bahana.