BANTUL - Anak berkebutuhan khusus bukan berarti tidak bisa berkarya. Hal itu dibuktikan oleh Michael Aaron Donisputro yang mampu menyuarakan pesan kemanusiaan lewat lirik lagu yang ditulisnya.
Lagu itu lahir dari pergulatan tentang kesehatan mental, sebuah isu yang dekat dengan pengalaman hidupnya maupun orang-orang di sekitarnya.
Meskipun mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini hidup dengan disleksia, diskalkulia, dan disgrafia, keterbatasan itu tak pernah memadamkan hasratnya untuk terus berkarya melalui musik.
Di tengah kesulitan yang kerap dianggap penghalang, ia justru menemukan ruang untuk bertumbuh dan berbicara lewat nada.
Melalui grup band yang ia dirikan sejak 2025, Aaron memberanikan diri merilis lagu berjudul Happy.
Lagu tersebut bercerita tentang harapan di tengah himpitan persoalan hidup, sebenarnya dunia tetap menyimpan banyak hal yang layak dirayakan meski keadaan tidak selalu baik-baik saja.
Baca Juga: Laga Kandang Terakhir PSIM Jogja Musim 2025/2026, Van Gastel: Saya Harap Suporter akan Datang
"Bunuh diri bukanlah sebuah opsi untuk mengakhiri permasalahan yang dihadapi," katanya saat ditemui di RJA Coffee Tirtonirmolo, Kasihan Sabtu (16/5) malam.
Isi lagu itu lahir dari pengalaman pribadinya yang pernah berada di titik ingin mengakhiri hidup.
Namun, kehadiran orang tua dan teman-teman yang terus memberi dukungan membuat keinginan itu perlahan memudar hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Bahkan saat duduk di bangku SMA, Aaron, sapaan akrabnya, menyaksikan sendiri beberapa temannya berada dalam kondisi serupa.
Ada yang harus dilarikan ke rumah sakit karena melakukan percobaan bunuh diri di rel kereta api, ada pula yang mengalami overdosis obat akibat tekanan hidup yang mereka pendam sendirian.
“Untungnya saat melakukan percobaan bunuh diri di rel kereta api, saya berhasil menolongnya,” katanya.
Menurutnya, persoalan kesehatan mental dan keinginan bunuh diri di kalangan anak muda masih sering luput dari perhatian. Banyak orang, baru menyadari kondisi seseorang saat semuanya sudah terlambat.
“Dan saya membuat lagu ini sebagai ajakan jika ingin mengakhiri hidup ngomong aja teman banyak orang tua ada banyak yang sayang juga,” jelasnya.
Pemuda berusia 18 tahun ini mencontohkan bagaimana sebagian orang masih mudah menghakimi korban dengan mengatakan bunuh diri adalah dosa atau tindakan egois. Padahal, menurutnya, akan jauh lebih berarti jika seseorang bertanya alasan di balik keputusasaan itu dan menawarkan bantuan dengan empati.
“Liriknya sendiri lebih menyindir kepada orang yang tidak peduli kepada orang yang mau bunuh diri,” tuturnya.
Sejak kecil, Aaron memang bercita-cita meniti karier di dunia musik. Konsistensinya menulis lagu sejak usia 13 tahun menjadi bukti kecintaannya pada dunia tersebut.
Dalam perjalanannya, ia mengajak sang adik, Valentino Austin Donisputro sebagai drummer, serta temannya Muhammad Haidar sebagai bassist untuk bersama membangun mimpi yang sama.
Baca Juga: Sirkuit Paseban, Arena Balap Jalanan Legendaris di Bantul, Dikenal sebagai Monaco-nya Jogja
Alunan musik yang dimainkan tiga anak muda berbakat itu menggema di pendopo RJA Coffee. Teman-teman yang hadir malam itu tampak larut menikmati karya perdana Aaron.
Lampu utama perlahan diredupkan, berganti cahaya warna-warni yang menari mengikuti dentuman musik.
Tempo yang energik membuat para penonton ikut bergerak mengikuti irama, menciptakan suasana hangat yang seolah menjadi ruang bersama untuk saling menguatkan.
Di dalam band yang ia beri nama Black Langues, ke depannya Aaron ingin tetap menyuarakan berbagai persoalan yang selama ini jarang mendapat perhatian, padahal penting untuk dibicarakan bersama.
Dalam band tersebut, kontribusi Aaron terbilang besar. Selain menjadi penulis lagu, ia juga berperan sebagai gitaris, vokalis, produser, komposer, sekaligus manajer band.
Mahasiswa jurusan Penciptaan Musik itu memilih menggunakan bahasa Inggris dalam lirik-lirik lagunya bukan tanpa alasan. Ia ingin pesan yang dibawanya tidak hanya dipahami oleh pendengar di Indonesia, tetapi juga mampu menjangkau pendengar dunia.
“Selain itu, saya lebih mudah mengekpresikan lirik dengan Bahasa Inggris,” katanya.
Aaron juga memilih untuk tidak membatasi karya-karyanya pada satu genre tertentu. Baginya, musik seharusnya menjadi ruang bebas untuk bereksplorasi, menemukan bentuk-bentuk baru yang tidak selalu bisa dikotakkan dalam kategori tertentu.
Melalui lagu Happy, ia berharap pendengar tidak lagi menutup mata terhadap pergulatan batin orang-orang di sekitar mereka. Sebab, menurutnya, tidak ada yang benar-benar tahu luka apa yang sedang disimpan seseorang di balik senyumnya. (cin)
Editor : Bahana.