Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dukuh Gunting Tumilan Tetap Membatik, Ingin Lestarikan Budaya dan Terdesak Kebutuhan

Cintia Yuliani • Senin, 27 April 2026 | 05:30 WIB
Dukuh Gunting, Gilangharjo, Pandak Tumilan sedang membatik di rumahnya. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
Dukuh Gunting, Gilangharjo, Pandak Tumilan sedang membatik di rumahnya. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Terdesak kebutuhan sekaligus ingin melestarikan kebudayaan melalui batik, Tumilan warga Padukuhan Gunting, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak terus menekuni pembuatan batik sejak duduk di bangku SMA. Lingkungan tempat tinggalnya yang kental dengan tradisi membatik sejak tahun 1980-an menjadi salah satu alasan ia memilih profesi tersebut.

"Dulu, setiap rumah di sini (Padukuhan Gunting, Red) membatik. Sampai-sampai kalau malam hari bau lilin malam," terangnya Minggu (26/4).

Ia belajar membatik secara otodidak dari lingkungan sekitar, mengingat sebagian besar warga berprofesi sebagai pembatik. Meski melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ia tetap menjalankan pekerjaannya sebagai pembatik. "Saya pernah jalan kaki untuk masarin batik saya. Jadi ya perjuangan sekali," katanya.

Baca Juga: Ombak Setinggi 4 Meter di Pantai Selatan Gunungkidul, Ibu dan Anak Sempat Terseret Berhasil Diselamatkan

Kemampuan membatik dan memasarkan produk ia pelajari secara mandiri. Pasalnya, orang tuanya bukan pembatik, sehingga ia banyak belajar sendiri maupun dari tetangga. Tumilan yang juga menjabat sebagai Dukuh Gunting menyebut, pada 1993 hanya ada sekitar dua hingga tiga orang yang membantunya memproduksi batik. "Tapi sekarang sudah ada puluhan orang yang bekerja di tempat saya," tuturnya.

Ia juga memberdayakan warga setempat agar memiliki pekerjaan. Meski sudah menjadi karyawan, mereka tetap terus belajar membatik untuk meningkatkan kualitas hasil produksi. Dalam usahanya, Tumilan memproduksi dua jenis batik, yakni batik lukisan dan batik busana. Untuk batik busana, terdapat beberapa variasi. "Ada klasik dan kontemporer atau gabungan dari beberapa motif di-mix jadi motif baru," terangnya.

Baca Juga: Persipura Rebut Puncak Klasemen dari PSS Sleman Setelah Bantai Persipal Palu

Saat ini, batik busana buatannya telah dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jakarta, Medan, dan Samarinda. Harga jualnya pun bervariasi, mulai dari Rp 100 ribuan hingga jutaan rupiah per potong. "Perbedaan harga jual batik itu tergantung dari bahan, tingkat kesulitan pembuatan, dan sebagainya," jelasnya.

Namun demikian, ia menyayangkan regenerasi pembatik yang kini tidak secepat dulu. Minat generasi muda untuk menekuni profesi ini dinilai menurun. "Rata-rata pembatik saat ini sudah berusia, yang remaja-remaja sudah tidak ada," pungkasnya. (cin)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tumilan #dukuh gunting #melestarikan kebudayaan #membatik #Batik