MALANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul berupaya kembali meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap museum di tengah era digital. Untuk itu, Kota Malang dipilih sebagai referensi dalam pengembangan museum.
Melalui kunjungan kerja Jumat (24/4), Pemkab Bantul mengkaji strategi transformasi museum konvensional menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang lebih relevan dengan perkembangan zaman dan teknologi.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan, Bantul memiliki kekayaan sejarah yang sangat besar, termasuk jejak Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang mewariskan berbagai bangunan dan benda bersejarah. "Kebudayaan adalah elemen penting yang tidak terlepas dari akar dan tujuan kehidupan," katanya.
Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Tawarkan Investasi Garmen Rp 51,6 Miliar di Semin, Bidik Pasar Ekspor
Meski demikian, ia menilai nilai-nilai sejarah tersebut berisiko dilupakan apabila tidak disajikan dengan pendekatan modern. Tantangan utama saat ini adalah mengembalikan minat generasi muda terhadap museum. "Bukan perkara mudah membangkitkan kesadaran generasi muda untuk mengenal sejarahnya dengan baik di tengah disrupsi teknologi," tuturnya.
Sekretaris Daerah Kota Malang Erik Setyo Santoso mengungkapkan, jumlah kunjungan museum secara umum menurun seiring pesatnya perkembangan teknologi. Fenomena ini menjadi tantangan besar yang berdampak luas ke berbagai sektor, termasuk bidang kebudayaan. "Menyikapi hal ini, kami mencoba memberikan kemasan museum yang lebih kekinian," katanya.
Karena itu, pihaknya mengembangkan fasilitas yang mendukung ekosistem ekonomi kreatif. Salah satu inovasinya adalah Malang Creative Center (MCC), gedung yang dirancang sebagai cikal bakal pengembangan industri kreatif.
Di lokasi tersebut, museum dirancang ulang dengan integrasi teknologi, mulai dari edukasi visual hingga pemanfaatan teknologi tiga dimensi (3D).
"Tujuannya memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi para pelajar," pungkasnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita