BANTUL - Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Bantul terus melakukan berbagai upaya untuk menangani persoalan anak putus sekolah. Langkah tersebut dilakukan agar anak-anak di Bantul tetap mendapatkan hak pendidikan dan dapat kembali melanjutkan sekolah.
“Kami melakukan pendekatan kepada lingkungan sekolah untuk memberikan pembinaan kepada siswa yang berpotensi putus sekolah,” beber Kepala Dikpora Bantul Nugroho Eko Setyanto Rabu (22/4).
Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan kalurahan agar bisa mendata anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikannya. Hal ini diharapkan bisa membuka peluang bagi anak yang putus sekolah untuk mengakses pembelajaran. “Baik melalui jalur formal atau non-formal contohnya PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat) dan SKB (sanggar kegiatan belajar),” katanya.
Sementara terkait biaya pendidikan, Dikpora Bantul telah mengusahakannya lewat dinas sosial dan Baznas. Lewat bantuan tersebut, diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang selama ini menjadi salah satu penyebab anak putus sekolah. Namun, ia belum bisa memastikan besaran bantuan yang diberikan dari dua instansi tersebut. Sebab masih dalam proses pengajuan.
Ia pun membeberkan latar belakang tingginya angka putus sekolah adalah dari faktor ekonomi keluarga. Kemudian rendahnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan. Serta minimnya motivasi anak untuk melanjutkan hingga jenjang SMA sederajat.
Sampai saat ini, dia belum bisa memastikan jumlah pasti angka anak putus sekolah di Bantul. Namun sesuai data Disdikpora DIJ, anak yang belum bisa mengakses pendidikan di Bantul mencapai 1.715. Hanya saja, jumlah ini masih dalam tahap verifikasi kalurahan dan operator. “Kami ingin memastikan seluruh data valid agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran,” tandasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita