Mardijiyono Karto Sentono, Calon Jemaah Haji Tertua di DIY dengan Usia 103 Tahun; Demi Wasiat sang Istri, Daftar dan Pelunasan dengan Jual Sapi

Sevtia Eka Novarita • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 20:23 WIB
PERSIAPAN: Mardijiyono Karto Sentono sedang membaca buku panduan haji dan doa-doa untuk persiapan keberangkatan ke Tanah Suci, Jumat (17/4). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
PERSIAPAN: Mardijiyono Karto Sentono sedang membaca buku panduan haji dan doa-doa untuk persiapan keberangkatan ke Tanah Suci, Jumat (17/4). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Impian panjang yang dipendam sejak kecil akhirnya terwujud. Mardijiyono Karto Sentono, calon jemaah haji tertua di DIJ berusia 103 tahun asal Randusari, Karanganom, Sitimulyo, Piyungan, dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci, awal Mei mendatang.

 

"Rasanya senang (bisa berangkat haji, Red),” ucapnya sambil tersenyum saat ditemui di kediamannya, Jumat (17/4).


Cucu Mardijiyono Dewi Rusmala, 33, menuturkan, impian naik haji kakeknya sempat tertunda, karena ia harus membesarkan delapan anak dengan berbagai kebutuhan yang tidak sedikit.

Baca Juga: Gantikan Sang Ayah, Abdulrahim Khoirudin, Calon Jamaah Haji Termuda Asal Kulon Progo Berangkat Tahun Ini


"Tapi Mbah Putri (istri Mardijiono, Red), nyuruh Mbah Kakung (Mardijiyono, Red) haji,” katanya.


Tak lama setelah itu, sang istri meninggal dunia pada Desember 2019 lalu. Permintaan itu pun menjadi seperti wasiat yang dipegang teguh oleh Mardijiyono.
Dengan tekad kuat, ia mulai mewujudkan impiannya. Modal awal diperoleh dari menjual sapi senilai Rp 10 juta, sementara kekurangannya ditutup dengan tambahan dana.


Petani yang juga gemar memelihara sapi ini akhirnya bisa mendaftar haji pada tahun 2020 melalui kuota lansia. Untuk pelunasan biaya, ia kembali menjual sapi. 
Namun keberangkatannya sempat tertunda akibat pandemi Covid-19. "Mundur, akhirnya dapat 2026. Tanggal 1 Mei nanti kloter sembilan Mbah Kakung berangkat,” tuturnya.

Baca Juga: Kulon Progo Berangkatkan 384 Calon Jamaah Haji, Terbagi Tiga Kloter: Jamin Keamanan dan Kenyamanan di Tengah Konflik Timur Tengah


Perjalanan menuju Tanah Suci pun tidak sepenuhnya mulus. Pada 2022 ia sempat terjatuh hingga menyebabkan kakinya retak. Meski dokter menyarankan operasi penggantian tulang, Mardijiyono memilih menjalani terapi.  


“Alhamdulillah setelah itu dengan bantuan alat bisa jalan,” katanya. Kini, seluruh persiapan terus dimatangkan. Ia telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan siap berangkat. 


Selama di Mekkah, Mardijiyono akan menggunakan kursi roda dengan pendampingan petugas haji dari Bantul. Sebab, pendengarannya sudah terganggu dan kakinya yang tidak bisa berjalan normal. 


“Mbah kakung sudah ngafalin doa-doa, karena sempat umrah tahun  2023 lalu,” ucap Rusmala.

Baca Juga: Jemaah Haji Asal Kota Jogja Diwanti-wanti Bahaya Suhu Panas saat di Tanah Suci


Dalam latihan manasik haji, keterbatasan fisik tak menjadi penghalang. Rusmala bahkan menggendong sang kakek saat mengelilingi replika Kakbah.
"Nanti dia ikut tawaf terakhir, hanya lewat satu kali nanti diwakali. Jadi ada program khusus,” bebernya.


Keluarga pun berharap perjalanan ibadah haji ini berjalan lancar. Mardijiyono diharapkan dapat berangkat dan kembali dengan selamat, serta menjadi haji mabrur. (cin/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja
Haji tertua kakbah keterbatasan fisik Calon Jamaah Haji tanah suci