BANTUL - Kritik terhadap perang global tak selalu disuarakan lewat orasi atau tulisan.
Di tangan Dosen Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta Nanang Rakhmad Hidayat atau yang lebih dikenal Nanang Garuda, pesan damai justru lahir melalui lantunan musik dari alat-alat berbentuk senjata perang.
Barang bekas seperti paralon, kayu, mainan anak, hingga benda temuan lain ia sulap menjadi instrumen musik menyerupai granat, pistol, senapan, bazoka, sniper, machine gun, crossbow, hingga rudal.
Dari karya itu, pria berusia 60 tahun ini berusaha mengubah simbol kekerasan menjadi harmoni bunyi.
Instrumen musik berbentuk senjata perang yang ia ciptakan tak lepas dari jejak masa kecil bersama orang tua berlatar belakang tentara.
Kedekatannya dengan dunia persenjataan menjadi pengalaman yang membekas dalam ingatan.
Dari ruang itulah tumbuh perenungan isi pembukaan UUD 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri perikemanusiaan dan peri keadilan.
"Akhirnya saya menemukan metode untuk mengkritik perang dengan mengubah seolah-olah senjata menjadi alat musik,” katanya, Kamis (16/4/2026).
Ide itu muncul pada 2020 saat pandemi Covid-19 hingga memaksa banyak orang berdiam diri di rumah.
Baca Juga: Aksi Sigap Personel Polsek Temon di Kawasan YIA, Bantu Pengendara Mobil saat Alami Gangguan
Di tengah keterbatasan aktivitas, Nanang memilih mengisi waktu dengan berkarya dari barang-barang yang ada di sekitarnya.
"Tak buat jadi berbagai macam benda temuan menjadi instrumen musik,” katanya.
Perjalanan kreatif itu terus berkembang. Pada 2022, ia mulai serius merancang instrumen berbentuk alat perang.
Latar belakangnya sebagai desainer interior dan penata artistik film membuat setiap karya tampil menyerupai bentuk asli.
Hingga kini sudah ada 24 item instrumen yang berhasil dibuat berupa alat musik tiup, gesek, petik, dan pukul.
Setiap karya membutuhkan waktu berbeda. Mulai sehari hingga sepekan, tergantung tingkat kesulitan dan bahan yang ditemukan.
Meski jumlah instrumennya terus bertambah, dosen Jurusan Televisi ini mengaku belum berpikir menjual karya itu.
Baginya, alat musik tersebut lahir dari hobi sekaligus medium menyampaikan kritik terhadap perang.
Dalam setiap pertunjukan, Nanang tidak memiliki personel tetap. Siapa pun bisa ikut terlibat, baik musisi maupun orang awam.
Biasanya, lima hingga 10 orang ikut memainkan instrumen tersebut, tergantung siapa yang memiliki waktu luang.
Pria yang tinggal di Trirenggo, Bantul ini menyebut konsep permainannya sebagai musyawarah bunyi.
Setiap orang bebas menyumbang suara, nada, atau irama hingga tercipta kesepakatan harmoni bersama.
“Karena dalam musyawarah bunyi setiap orang boleh dalam demokratis ini berpendapat. Orang awam orang ahli silakan,” ucapnya.
Bagi Nanang, inti demokrasi bukan sekadar suara terbanyak, melainkan bagaimana setiap pendapat didengar hingga melahirkan mufakat nada.
Permainan alat musik itu juga kerap dipadukan dengan pembacaan puisi, mantra, suluk, hingga tembang.
Biasanya mereka tampil di pembukaan pameran, penutupan kegiatan seni rupa, atau agenda komunitas tertentu.
Baca Juga: Tak Bisa Pertanggung Jawabkan Uang Rp 21,4 M, Nany Widjaja Digugat Perusahaan Industrial Estate
Karya tersebut sempat viral di media sosial ketika situasi perang dunia memanas.
Akun Instagram @nananggaruda miliknya dibanjiri pengikut dari Eropa, Amerika, hingga Amerika Latin.
“Mereka melihat aku mengkritik perang dengan ini, senang sekali,” ujarnya.
Seniman yang lahir di Mojokerto, Jawa Timur ini berharap siapa pun tak pernah berhenti berkarya dalam situasi apa pun.
Menurutnya, karya mungkin tak langsung dilihat orang saat diciptakan, tetapi akan menemukan jalannya sendiri pada waktu yang tepat.
"Harapannya selalu ada kesempatan untuk berkarya, berkreasi di dalam situasi apa pun. Jadi jangan berhenti berkarya," tandasnya. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun