BANTUL - Seluruh siswa SMP Negeri 3 Jetis diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (13/4/2025).
Hingga kini belum dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Jetis Widodo mengatakan, pihak Puskesmas Jetis 2 menyarankan para siswa untuk menjalani masa pemulihan selama tiga hari meskipun tidak ada yang dirawat inap.
Baca Juga: Petani Lendah Kulon Progo Ikuti Bimtek, Cegah Hama Tikus Sejak Dini
"Untuk pemulihan stamina dan psikisnya," katanya saat ditemui di SMP Negeri 3 Jetis, Rabu (15/4).
Sebanyak 75 siswa dan 30 guru dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, demam, dan pusing.
Ada pula yang mengalami tremor serta tubuh menggigil disertai demam.
"Kalau gurunya saat ini sudah bisa kembali mengajar," katanya.
Widodo menjelaskan, dugaan keracunan mengarah pada menu ayam yang memiliki bau menyengat, meskipun rasanya masih dinilai enak.
Baca Juga: Ratusan Ketua DPRD Se-Indonesia Peserta Retret Tiba di Akmil Magelang, Kompak Pakai Seragam Komcad
"Pada waktu pendistribusian belum begitu terasa baunya. Kemudian gejala baru dirasa malam hari," katanya.
Akibat kejadian tersebut, kegiatan belajar mengajar pada pagi hari Selasa (14/4/2026) menjadi tidak kondusif.
Banyak siswa bolak-balik ke toilet.
Mengingat keterbatasan fasilitas toilet dan untuk mencegah penularan ke siswa lain, pihak sekolah memutuskan memulangkan siswa lebih awal.
"Kita ambil kebijakan dengan seizin dinas dipulangkan lebih awal anak-anak," katanya.
Wakil Kepala Sekolah berinisial NIK menjelaskan, laporan awal diterima Selasa (14/4/2026) pagi saat tujuh siswa mengeluhkan diare.
Pada malam harinya, lima siswa lainnya juga mengalami hal serupa.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan dengan mendatangi setiap kelas dan menanyakan kondisi siswa.
Dari hasil pendataan, ditemukan 71 siswa mengalami gejala.
Selain itu, melalui grup wa, diketahui ada empat siswa lain yang tidak berangkat ke sekolah juga mengeluhkan sakit perut.
"Lalu kami meminta untuk dibawa ke puskesmas Jetis 2," tuturnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam dan Galeri 24 Hari Ini Per Rabu 15 April 2026 Naik, Berikut Daftar Harga!
Pihak sekolah juga menyoroti tidak adanya keterangan kandungan gizi dan harga pada kemasan makanan (ompreng), kecuali saat bulan puasa.
Salah satu guru diketahui menyimpan sampel menu MBG yang disajikan Senin (13/4), terdiri dari nasi ayam bakar, tahu, tumis sawi, dan semangka.
Sampel tersebut telah dibawa ke Puskesmas Jetis 2 untuk diuji di laboratorium Selasa (14/4).
NIK juga mengaku sempat mencurigai perubahan waktu distribusi.
Pada Senin (13/4), makanan dikirim dalam dua tahap, yaitu pukul 10.00 WIB sebanyak 510 porsi dan pukul 11.00 WIB sebanyak 203 porsi.
Distribusi dua kali disebut untuk menghindari kerumunan.
"Saya sempat menanyakan yang diantar awet apa engga karena istirahat jam 12, pihak SPPG bilang IsyaAllah awet," bebernya.
Baca Juga: Resep Tiwul Khas Gunungkidul, Kuliner Tradisional yang Bisa Kamu Recook di Rumah
Menindaklanjuti kejadian ini, pagi harinya pada Selasa (14/4/2026) pihak sekolah meminta agar SPPG Patalan 2 sementara tidak mendistribusikan MBG.
Tercatat sejak Rabu (15/4/2026), distribusi MBG ke seluruh sekolah penerima manfaat dihentikan tanpa batas waktu yang ditentukan.
Sebelumnya, pihak sekolah juga pernah menemukan menu bola daging dengan rasa yang kurang enak dan teksturnya yang lembek.
Sebagai langkah antisipasi kejadian luar biasa (KLB), siswa sempat diminta tidak mengonsumsi menu tersebut.
Ia menambahkan, SMP Negeri 3 Jetis menerima distribusi MBG dari SPPG Patalan 2 sejak akhir Januari 2026, dengan total penerima sebanyak 713 orang, terdiri dari 658 siswa serta 55 guru dan karyawan.
Baca Juga: 'Destinasiku Destinasimu': Cara Unik Pelaku Wisata Magelang Saling Berbagi Wisatawan
Salah satu guru SMP Negeri 3 Jetis berinisial RAW sempat menyantap menu MBG di hari Senin (13/4).
Ia mengaku awalnya tidak mencium bau mencurigakan saat memakan menu tersebut dan menilai rasanya enak.
"Tapi malamnya mules diare gitu, paginya juga ke kamar mandi," bebernya.
Mengatasi hal tersebut, ia memilih tidak mengonsumsi obat dan hanya minum jahe serta yakult untuk meredakan gejala.
RAW berharap manajemen dan pegawai di SPPG Patalan 2 dapat diperbaiki dengan merekrut tenaga yang kompeten.
"Jangan ga kompeten di bidangnya dipaksa bekerja, basic bukan dari catering jadi menunya kurang variasi, rasanya juga menurut kami kurang juga," keluhnya.
Sementara itu, perwakilan SPPG Patalan 2 Hanif Saka menyatakan, belum dapat memberikan keterangan resmi karena masih menunggu hasil uji laboratorium.
Terkait kompensasi bagi korban, pihaknya juga belum dapat memastikan.
"Kami akan secepatnya memberikan klarifikasi," ucapnya singkat.
Pantauan Radar Jogja menunjukkan dapur SPPG yang biasa mendistribusikan MBG di SMP Negeri 3 Jetis tampak sepi.
Tidak terlihat aktivitas memasak, hanya ada petugas kebersihan yang sedang membersihkan area tersebut. (cin)
Editor : Meitika Candra Lantiva