BANTUL - Petani di Kalurahan Seloharjo, Pundong, Bantul mengeluhkan lahannya diserang monyet ekor panjang. Bahkan serangan ini berdampak pada lahan pertanian di 13 padukuhan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Seloharjo Sakijo mengatakan, 13 padukuhan yang terdampak berada di perbatasan Kabupaten Gunungkidul. Yakni Padukuhan Dukuh, Dermojurang, Nambangan, Bobok Tempel, Soka, Karangasem, Kalipakem, Blali, Ngreco, Sorotopo, Geger, Poyahan, dan Jelapan. "Total sekitar ratusan hektare terdampak," katanya Minggu (12/4).
Baca Juga: Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Diharapkan Bawa Ribuan Orang ke Magelang
Bahkan lahan pertanian di Padukuhan Poyahan, Ngreco, dan Blali sudah mulai ditinggal. Para petani pun memilih menggantinya dengan menanam pohon kayu seperti jati. "Ada sekitar 71 hektare sudah tidak ditanamani tanaman pertanian," bebernya.
Selain itu, petani di Seloharjo juga pernah mengalami gagal panen karena lahan pertaniannya di makan oleh monyet ekor panjang. "Jagung kadang nggak bisa panen. Dulu kita tanami kacang tanah, baru ditanam sudah dimakan monyet," keluhanya.
Petani yang masih menanam jangung, kacang-kacangan, dan buah-buahan di 13 padukuhan tersebut terpaksa harus menunggu lahan saat siang hari untuk mengusir monyet. "Biasanya petani bawa jaring dan kentongan buat ngusir," tuturnya.
Selain itu, karena Seloharjo berdekatan dengan Gunungkidul, beberapa warga di kabupaten tersebut memelihara anjing untuk mengusir monyet ekor panjang. Lahan pertanian di Seloharjo juga terbantu dengan adanya anjing milik warga Gunungkidul. "Sekitar 2007, munculnya (monyet, Red) bisa puluhan kalau rombongan, setiap hari berkeliaran," katanya.
Baca Juga: Jangkau Daerah Terpencil, Dishub Bantul Ajukan Dua Rute Angkutan Perintis ke Kementerian Perhubungan
Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan, Produksi dan Pengembangan Usaha Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Imawan Eko Handriyanto mengatakan, selain di Kapanewon Pundong monyet ekor panjang juga kerap muncul dan mengganggu lahan pertanian di Kapanewon Dlingo, Piyungan, Imogiri, dan Pleret. "Cukup mengkhawatirkan juga populasinya," sebutnya.
Apalagi musim kemarau ini, kata dia, ketersedian pangan monyet sudah mulai berkurang. Sehingga monyet ekor panjang bisa beralih mencari makanan di lahan pertanian milik warga.
Ia mengaku, pihaknya telah melakukan upaya untuk mengatasi serangan monyet ekor panjang bekerja sama dengan Balai Proteksi Tanaman Pertanian DIY. "Pakai jaring pernah, tapi hasilnya di Balai Proteksi DIY," katanya.
Sebab, monyet ekor panjang salah satu satwa yang dilindungi dan tidak boleh dibunuh. Sehingga pengendaliannya baru sebatas menggunakan jaring.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bambang Purwadi Nugroho mengatakan, petani yang tanaman pertaniannya di makan monyet ekor panjang, bisa mengajukan bantuan bibit ke ke DKPP Bantul dan Balai Kehutanan tembusan dari DLH Bantul. Nantinya pihaknya akan menyediakan kebutuhan bibit pohon yang diperlukan. "Kita beri bibit pohon pengganti," janjinya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita