BANTUL - Sepasang pengantin tebu dikirab di sekitar kompleks Pabrik Gula Madukismo, Bantul kemarin (11/4). Pengantin laki-laki yang dikawinkan ini bernama Kyai Tumpak, berasal dari Magelang. Sedangkan pengantin perempuan yang diberi nama Nyai Pethak, diambil dari Minggir, Sleman.
Ketua Panitia Suhadi menjelaskan, pemilihan sepasang tebu itu ditentukan dari tebu terbaik yang berasal dari perkebunan terbaik di seluruh wilayah kerja Perusahaan. Meliputi empat kabupaten di DIY, Jawa Tengah bagian selatan (Purbalingga di barat, Sragen di timur, Magelang dan Temanggung utara).
Setelah diarak, pasangan pengantin tebu itu kemudian diijabkabulkan layaknya pasangan pengantin. Prosesi ijab kabul ini dilangsungkan di Masjid An-Nur, Tirtonirmolo, Kasihan.
Baca Juga: Jateng Dominasi Deretan Kota-Kabupaten Paling Maju di Indonesia
Setelah itu, pengantin tebu akan kembali menjalani prosesi ritual adat di dalam Pabrik Gula Madukismo untuk nantinya bakal dijadikan tebu pertama yang akan digiling. "Tebu Manten ini merupakan representasi dari kerja keras divisi bagian tanaman, mulai dari menanam, memelihara, hingga menebang tebu," jelas Suhadi Sabtu (11/4).
Suhadi menjelaskan, dengan menikahkan tebu terbaik itu, diharapkan dua tebu itu bisa menjadi bapak dan ibu dari tebu-tebu yang lain. Sehingga hasil gilingan tahun ini akan melimpah ruah seperti keturunan yang banyak dan berkualitas baik. "Target kami semoga bisa menggiling sebanyak 4,8 juta kuintal," lontarnya.
Baca Juga: Prediksi Skor Liverpool vs Fulham Premier League Sabtu 11 April 2026, Mampukah The Reds Bangkit?
Tak hanya itu saja, dengan adanya kirab Tebu Manten ini, Suhadi juga berharap acara ini tidak hanya menjadi agenda rutin perusahaan saja. Tetapi juga tetap lestari sebagai aset budaya satu-satunya di Jogjakarta. "Kami juga mengharapkan adanya dukungan dari dinas kebudayaan atau pariwisata untuk memperbesar skala acara ini di masa depan," tegasnya.
Dia menyebut, kirab Tebu Manten ini merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan selamatan giling dan suling dari Pabrik Gula Madukismo. Acara selamatan ini diselenggarakan sebagai pembuka sebelum dimulainya proses giling dan suling pada Mei 2026. Rangkaian acara sudah dimulai sejak 25 Maret dengan berbagai gelaran budaya dan doa, hingga ditutup dengan prosesi Tebu Manten. (ayu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita