BANTUL - Siswa di SDN Monggang, SDN Ketegan Pundong dan MI Sananul Ula Daraman, Piyungan diduga mengalami keracunan makan bergizi gratis (MBG). Atas kejadian ini, beberapa siswa yang mengalami keracunan masih belum bisa mengikuti pembelajaran sekolah. Bahkan ada yang harus opname.
Kepala Sekolah SDN Monggang Sumarni mengatakan, ada 18 siswa dari total 113 siswa penerima manfaat yang mengalami keracunan pada Rabu (8/4/2026). Dua siswa di antaranya sempat di infus di Pukesmas Pundong dan sore harinya diperbolehkan kembali ke rumah.
Namun, lanjut dia, Kamis (9/4/2026) bertambah satu orang yang mengalami keracunan dan belum bisa mengikuti pembelajaran di sekolah. "Sembilan orang yang kemarin keracunan belum berangkat sekolah ," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Wajib Menang di Kandang, PSIM Jogja Kejar Pembuktian, PSM Makassar Usung Misi Keluar dari Krisis
Ia menjelaskan kronologi kejadian berawal saat salah satu siswa kelas enam menemukan menu MBG berupa sayur selada yang di dalamnya terdapat belatung. "Terus kita ke semua kelas, diumumin kalau yang belum dimakan ngga usah dimakan," katanya.
Setelah di bawa ke kantor, terdapat bau menyengat di opreng tersebut. Lalu ia mengecek sumber baunya. Ternyata bau menyengat berasal dari susunya. "Susu Clevo masih lama kadaluwarsanya, cuma mungkin salah penyimpanan," katanya.
Mengetahui hal itu, pihaknya langsung mengembalikan semua MBG yang belum di makan oleh siswa ke SPPG Srihardono 1. "SPPG tutup sementara dan hari ini kita nggak dapet MBG," bebernya.
Ia mengatakan, menu pada hari Rabu (8/4) terdiri atas telur cetak steam, kering tempe, nasi putih, pokcoy garlic, susu, dan pisang mas.
Sementara itu, Wali Kelas SDN Ketegan Pundong Wartiem mengatakan, terdapat satu siswa dari 158 siswa penerima manfaat yang mengalami mual dan muntah pada Rabu (8/4/2026).
"Sebenarnya nggak keracunan, tapi siswa tersebut pas minum susu nyium bau telur karena ngga suka bau telur jadi muntah keluar susu," katanya saat ditemui di ruang kerjanya.
Setelah itu, kata dia, dari Puskesmas Pundong mendatangi sekolah dan mengecek keadaan siswa tersebut. "Setelah muntah, siswanya normal kembali dan saat ini sudah berangkat sekolah" tuturnya.
Atas kejadian itu, saat ini pihak sekolah belum menerima MBG lagi dan diberhentikan sementara. "Sebenarnya kadaluwarsanya masih lama, 6 Maret 2027," bebernya.
Kejadian diduga keracunan juga terjadi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sananul Ula Daraman, Piyungan. Kepala Sekolah MI Sananul Ula Daraman, Piyungan Ridwan mengatakan, tujuh siswa di kelas 1A mengeluhkan mual, muntah, dan diare, yang diduga karena menu MBG.
Baca Juga: Empat KDMP di Bantul Dapat Bantuan Kendaraan Roda Tiga untuk Operasional
"Saya belum bisa memastikan karena itu keracunan MBG, karena sebagian menu juga dibawa pulang dan nggak masalah," katanya. Namun ia mengaku ada siswa yang dibawa ke rumah sakit setelah mengalami beberapa gejala tersebut. "Hasilnya seperti apa, saya belum tahu," tuturnya.
Ia membeberkan jangka waktu memberikan MBG dan gejala lumayan cukup lama. Artinya, kejadian tidak langsung setelah menyantap MBG. "Jadi ada yang malam, ada yang pagi baru merasakan gejala," katanya.
Maka dari itu, pihak sekolah belum sempat melakukan uji lab untuk mengetahui penyebab gejala keracunan tersebut. Kejadian itu, kata dia, terjadi hari Senin (6/4/2026) dengan menu MBG berupa semangka, telur ceplok bumbu kecap, nasi putih, susu Nobo, dan capcay wortel brokoli dari SPPG PWNU DIJ 1 Daraman, Piyungan. "Kami menerima MBG dari pertengahan semester satu," bebernya.
Salah seorang wali murid MI Sananul Ula Daraman yang tidak ingin disebut namanya mengaku anaknya mengalami muntah dari jam tiga malam sampai 10 pagi sebanyak delapan kali. "Sempet opname dua hari," katanya.
Saat meminta izin tidak berangkat sekolah di grup WhatsApp, ternyata beberapa siswa lainnya juga mengeluhkan mengalami gejala yang sama. "Kemungkinan karena salah satu menu sudah basi," katanya.
Sebelum ada program MBG, madrasah ini sudah ada program katering untuk para siswa dan selama itu aman atau tidak ada masalah.
Terpisah, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul Hermawan Setiaji mengatakan, terkait dua sekolah di Pundong seluruh menu telah diambil sampel, termasuk susu untuk mengetahui penyebab keracunan. "Biaya perawatan semuanya ditanggung pemkab," katanya.
Namun terkait dengan kejadian di MI Sananul Ula Daraman, Piyungan, pihaknya belum menerima informasi bahwa ada siswa yang keracunan. "Negatif, aman," katanya. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun