Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dijanjikan Kerja di Busan dan Gaji Rp 12 Juta, Warga Sewon Bantul Jadi Korban Scam di Kamboja

Cintia Yuliani • Kamis, 9 April 2026 | 19:19 WIB
Ilustrasi Scam atau Phising.
Ilustrasi Scam atau Phising.

 

 

BANTUL - Warga Panggungharjo, Sewon berinisial BM menjadi korban penipuan pekerjaan ilegal di Kamboja yang ternyata scam.

Istri korban S, 44, mengatakan, awalnya korban yang pada saat itu bekerja di Jakarta selama dua tahun meminta beberapa dokumen KK, akta kelahiran, dan ijazah pada bulan November 2025. Sebagai persyaratan pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Tanjung Priok untuk persyaratan bekerja di Busan, Korea.

“Saya ngga langsung kasih, tapi beliau mendesak tiap hari Wa suruh cepet,” jelasnya saat ditemui di rumahnya Kamis (9/4).

Baca Juga: Presiden Prabowo Targetkan Indonesia Bebas Impor BBM, Dorong Elektrifikasi 100 Gigawatt

Sebab, ia sempat curiga karena dengan persyaratan yang mudah dan tidak dibebani biaya apapun langsung bisa diterima bekerja. Selain itu, pengurusan visa maupun paspor pun diurus oleh seseorang asal Meda yang dikenal lewat media sosial Facebook. Namun, BM tetap meyakinkannya bahwa pekerjaan tersebut resmi.

“Saya sempat curiga karena suami saya ngga lancar Bahasa Inggris, kok bisa langsung diterima, kok gampang banget,” katanya.

Selanjutnya, pada 23 Desember 2025 BM berangkat dari Jakarta bersama satu temannya menuju Busan dengan transit di Malaysia. Namun, saat tiba di Bandara Malaysia BM dihadang oleh dua pria yang tidak dikenal dan langsung diarahkan menuju gate keberangkatan lain dengan tujuan Phnom Penh/Techno International Airport yang tertulis di bukti tiket.

Baca Juga: Prediksi Skor Bologna vs Aston Villa Europa League Jumat 10 April 2026 Kick Off 02.00 WIB

“Kan sempet ngirim bukti tiket, saya curiga kok tujuannya ke Kamboja, bukan ke Korea,” bebernya.

Setelah tiba di bandara Kamboja, BM dijemput oleh beberapa orang dan langsung dibawa ke sebuah bangunan perusahaan. Setelah dibawa ke bangunan tersebut, BM baru mengetahui ternyata perusahaan tersebut adalah scam.

Ia mulai bekerja tanggal 25 Desember 2025 sampai 15 Januari 2026 dan tidak mendapatkan gaji sama sekali.

“Dia bilangnya ke saya kerja ada target kalau ngga target ngga dapat gaji,” katanya.

Baca Juga: PSIM Jogja di Peringkat 8, Pelatih Van Gastel Tekankan Proses, Akui Timnya Belum Aman dari Zona Degradasi

Ia juga menceritakan saat melakukan panggilan video, suaminya tidak berada di kantor, melainkan di tempat seperti kamar mandi dan wastafel. “Ngumpet-ngumpet gitu,” tuturnya.

Lanjutnya, sebelum BM mengatakan bekerja di perusahaan scam, ia memberitahu kepada S bahwa pekerjaannya sangat ketat, tidak boleh keluar, dan jika membutuhkan sesuatu sudah tersedia di gedung perusahaan tersebut.

"Jam kerja dari sembilan pagi sampai 11 malam," katanya.

Pada 10 Januari 2026, dua temannya menyalakan lokasi agar bisa dilacak oleh pihak kepolisian Kamboja. Namun, aksi tersebut diketahui oleh pihak perusahaan. BM pun melihat kedua temannya disetrum di depannya, lalu dibawa pergi menggunakan mobil.

Baca Juga: Laga PSIM Jogja Kontra PSM Makassar, Kuota Tiket 7.500, Penjualan Belum Capai 50 Persen

“Karena temannya menyalakan lokasi itu, selang beberapa hari ada penggerebekan besar-besaran dan suami saya kabur,” bebernya.

Ia mengatakan, awalnya suaminya tertarik dengan tawaran pekerjaan tersebut karena karena diiming-imingi gaji Rp 12 juta perbulan. Gajinya pun bisa naik jika memenuhi target.

Sementara itu, Sekretaris Disnakertrans Bantul An Nursina Karti mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan pada 17 Maret 2026 dari istri korban bahwa suaminya tertipu pekerjaan ilegal di Kamboja. Upaya yang Disnakertrans lakukan adalah berkoordinasi dengan Lurah Panggungharjo, BP3MI Yogyakarta, dan perwakilan KBRI di Kamboja.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Pemerintahan Efektif dan Andal, Capai Prestasi Nyata dalam 1,5 Tahun

“Istrinya minta dipulangkan ke Indonesia kami mengupayakan beberapa aktenatif untuk bisa memulangkan salah satunya kerja sama dengan baznas,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Setelah berkoordinasi, ia mendapatkan informasi bahwa pada tanggal 15 Januari 2026 terjadi penggerebekan di lokasi perusahaan scam tersebut oleh pihak kepolisian Kamboja bekerja sama dengan Interpol. Selain BM yang bisa melarikan diri, seluruh karyawan dan pihak HRD perusahaan juga bisa melarikan diri dan tinggal di hotel selama lima hari.

“Setelah lima hari orang Bantul itu lari lagi menuju ke KBRI,” katanya.

Baca Juga: Pemerintah Daerah di Jateng Beli Bus Listrik, Prabowo Puji Gubernur Ahmad Luthfi

Lanjutnya, pada saat BM melarikan diri, untungnya IA membawa HP dan paspor, sehingga sampai saat ini masih bisa berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.

“Rencananya 12 Apil kerja sama dengan Baznas dan Kalurahan Panggungharjo, korban bisa dipulangkan,” tuturnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri agar selalu mencari informasi yang valid dengan cara berkomunikasi dengan Disnaker setempat atau mencari tahu kebenaran agen pekerjaan resmi atau tidak. Serta jangan terperdaya iming-iming gaji tinggi dengan persyaratan mudah.

“Selain itu, selalu menyimpan nomor-nomor resmi terutama keluarga, disnaker, dan KBRI," katanya.  (cin)

Editor : Heru Pratomo
#kamboja #Busan #Bantul #sewon #Scam