Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengunjung Pasar dengan Pasaran Jawa Sebut Ruang untuk Salurkan Hobi hingga Menjadi Tempat Silaturahmi 

Adib Lazwar Irkhami • Sabtu, 4 April 2026 | 21:39 WIB
Slemet Siswanto (pakai peci) dan Sugito. Rizky Wahyu/Radar Jogja 
Slemet Siswanto (pakai peci) dan Sugito. Rizky Wahyu/Radar Jogja 

 

BANTUL - Fenomena hari pasaran seperti pon, wage, kliwon, legi dan pahing memang memiliki daya tarik tersendiri bagi warga Jogjakarta dan sekitarnya. Sebab, saat hari pasaran tiba, pasar tradisional biasanya bertransformasi menjadi pusat semesta yang menyediakan apa saja. Mulai palawija, hasil pandai besi, hingga hewan ternak.

Baca Juga: Oldies Majalah Pulsa, Jejak Media Teknologi Era 2000-an yang Kini Jadi Kenangan


Salah seorang pembeli yang hobi berkunjung ke pasar saat hari pasaran tiba adalah Sugito, Warga Bantul. Ia  menyebut hari pasaran Jawa itu bukan sekadar penanda waktu. Tapi hari-hari itu adalah perayaan untuk menyalurkan hobi lawasnya yakni berburu barang klitikan.


"Kalau pasaran tiba biasanya saya memang ke pasar. Ya, cari-cari onderdil sepeda onthel. Saya ke sana melihat-lihat, tapi kalau cocok beli," jelasnya, Jumat (3/4). 
Menurut Sugito, biasanya saat hari pasaran tiba, suatu pasar menjadi lebih meriah. Tak seperti hari-hari biasa, tiba-tiba pasar menjadi ramai dan banyak penjual dan pembeli ayang berdatangan. 

Baca Juga: Berburu Koran dan Majalah Lawas, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Keliling Stan Klitikan di Pasar Kangen


 "Ya ada klitikan, ada hewan, ada palawija, makanan tradisional. Banyak pokoknya," ucapnya. 


Sugito sendiri mengaku saat pasaran tiba, biasanya ia sering menyambangi Pasar Njodog atau Pasar Imogiri dengan tujuan spesifik. Selain mencari onderdil sepeda onthel, pria berusia 58 tahun ini juga berburu kuliner kesukaannya. 


 "Kalau di Imogiri pasarnya pasti penuh. Saya paling suka tongsengnya kalau di sana," ujarnya sambil tertawa. 


Sementara pengunjung pasar lain, Slamet Siswanto mengatakan, budaya pasaran adalah ruang silaturahmi yang tak tergantikan oleh lokapasar digital manapun. Sebab, menurutnya, saat pasaran tiba orang-orang bisa bertemu dengan orang dari berbagai daerah. 


Mereka kemudian saling bertukar informasi soal hobi, atau sekadar memantau harga burung merpati. "Ada yang jadi blantik, ada yang cuma datang mau belanja biasa," cetusnya. 

Baca Juga: Diserbu Warga! Pasar Ramadan Bantul Hadirkan 40 Pedagang Jual Aneka Takjil, Cek di Sini Kudapan Tradisional hingga Kekinian


Oleh karena itu, Slamet berharap budaya pasaran ini harus terus ada. Sebab, dengan adanya budaya itu orang-orang bisa kenal satu sama lain dan bisa mempererat tali silaturahmi.


 "Banyak hal unik yang bisa ditemui di pasar itu. Pokoknya meriah, apa-apa ada. Tapi itu harus datang pagi-pagi, soalnya pasaran itu biasanya sampai jam 12 siang. Setelah itu ya sepi karena pedagang pada pulang,"  ungkapnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#oldies #pasar tradisional #onderdil