Waspada! Dinkes Bantul Catat Kasus Diabetes Melitus Meningkat Dua Tahun terakhir, Begini Penjelasannya

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Kamis, 26 Maret 2026 | 18:43 WIB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat ada peningkatan kasus diabetes melitus dua tahun terakhir berdasarkan data sistem informasi puskesmas.

Awal tahun 2026 sampai Februari ini kasus diabetes melitus sudah menyentuk 13.452 kasus.

Tahun 2024 terdapat 25.407 kasus diabetes melitus, sedangkan di tahun 2025 sebanyak 26.557 kasus. 

Baca Juga: Kisah Perawat Hewan di Magelang: Berlebaran dengan Menyuapi 25 Ekor Hewan Titipan yang Susah Makan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto mengatakan, peningkatan penemuan kasus disebabkan karena seiring dengan adanya kegiatan skrining aktif pada awal 2026.

Kegiatan skrining diabetes melitus dilakukan bersamaan dengan kegiatan cek kesehatan gratis (CKG) yang dilakukan di semua puskesmas di Bantul.

“Rentang usia pengidap diabetes melitus terbanyak di atas 50 tahun,” katanya Kamis (26/3/2026).

Baca Juga: Malioboro Penuh Sesak, Ini Tempat Wisata di Pinggiran Yogyakarta Yang Menjanjikan Ketenangan

Selain skrining aktif, Dinkes Bantul juga melakukan upaya penanggulangan penyakit diabetes melitus mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Promotif dilakukan dengan edukasi dan sosialisasi masyarakat. Preventif dengan skrining diabetes melitus.

Skrining diabetes melitus untuk usia 15 sampai 39 tahun diiringi dengan skrining obesitas dan atau hipertensi dan semua usia lebih dari 40 tahun.

Baca Juga: Libur Lebaran Segera Usai, Yuk Berwisata ke Sejumlah Tempat Bersama Keluarga sebelum Kembali Bekerja

"Skrining ke masyarakat dengan faktor risiko komplikasi diabetes melitus yaitu dengan skrining jantung dan stroke, juga pada pasien tuberkulosis," jelasnya.

Selain itu, Dinkes Bantul juga melakukan kuratif dan rehabilitatif yang dilakukan melalui pengecekan kesehatan atau kadar gula darah secara rutin bagi penderita diabetes melitus minimal satu kali dalam sebulan.

Sebagai upaya dalam pemberian standar pelayanan minimal penderita diabetes melitus.

Baca Juga: Kasus Pembunuhan Cucu Mpok Nori oleh WNA Irak, Tetangga Sempat Mendengar Gaduh Pertengkaran

Selain itu, pemberian edukasi, dan obat diabetes melitus melalui kelas prolanis diabetes melitus di puskesmas.

Dilakukan juga penyiapan puskesmas dan rumah sakit dalam memberikan layanan kesehatan dalam penanggulangan diabetes melitus sesuai standar, termasuk penyediaan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) gula darah di puskesmas serta menjamin ketersediaan obat-obatan diabetes melitus.

Baca Juga: Imbas Tol dan Program Mudik Gratis, Animo Pemudik Menggunakan Bus di Terminal Jombor Sleman, Lesu

Sementara itu, Kepala Dinkes Agus Tri Widiyantara mengatakan, diabetes melitus biasanya terjadi merupakan akumulasi dari berbagai faktor risiko seperti genetik, gaya hidup, pola makan, lingkungan, dan sebagainya.

“Sehingga munculnya diabetes melitus biasa terjadi pada umur-umur yang sudah relatif tua, meskipun bisa juga terjadi pada usia muda,” terangnya.

Untuk mencegah terjadinya diabetes melitus apalagi bila terdapat faktor resiko keluarga atau genetik yang juga menderita diabetes melitus, masyarakat diminta untuk menerapkan pola hidup sehat, perbanyak aktivitas fisik.

Baca Juga: Dampak Perang Melawan Iran, Tentara Amerika Serikat Terserang Mental: Tidak Ingin Mati untuk Israel!

Pola makan yang seimbang, hindari konsumsi gula dan karbohidrat yang berlebihan.

“Dan selalu lakukan cek kesehatan secara berkala,” pungkasnya. (cin)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Sumber : Radar Jogja
dinkes bantul diabetes melitus diabetes melitus genetik kasus meningkat