Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara mengatakan, pihaknya akan melakukan imunisasi campak untuk mengantisipasi meluasnya kasus tersebut di Bantul.
“Batas aman sebenarnya idealnya kita menargerkan 95 persen sudah diimunisasi,” jelasnya saat ditemui di Kantor Dinkes Bantul Jumat (13/3).
Namun, kata dia, masih ada beberapa wilayah yang sulit dijangkau karena adanya perbedaan persepsi dari sekelompok masyarakat terkait vaksinasi.
“Ada kultur di kelompok tersebut yang memang tidak membolehkan dilakukan vaksinasi,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto mengatakan, meskipun terdapat peningkatan jumlah kasus campak, pihaknya memastikan tidak ada pasien yang dirawat di rumah sakit maupun kasus kematian akibat penyakit tersebut.
“Faktor peningkatannya kalau ada satu kasus yang muncul, sementara ada yang belum di vaksinasi bisa tertular,” terangnya.
Sebanyak 17 kasus tersebut tersebar di Banguntapan, Dlingo, Kasihan, Pandak, Pleret, Sewon, dan Srandakan. “Paling banyak di Banguntapan ada lima kasus,” tuturnya.
Karena itu, pihaknya akan segera melakukan imunisasi campak kepada kelompok usia sembilan hingga 59 bulan yang sebelumnya belum mendapatkan imunisasi.
“Target (vaksinasi, Red) hitungan sementara estimasi dari capaian yang kita dapat 1.116,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala campak seperti demam, batuk, pilek, dan muncul ruam kemerahan agar segera melakukan pengobatan.
Selain itu, masyarakat diminta menghindari kontak dengan penderita campak guna mencegah penularan.
“Kemudian jaga kesehatan, konsumsi gizi seimbang, dan bisa melapor ke petugas pukesmas akan kita tindak lanjuti,” pungkasnya. (cin)
Editor : Bahana.