Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kerajinan Enceng Gondok Bantul Tembus Pasar London dan Prancis, Berdayakan Ibu-Ibu Lewat Storytelling

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 10 Maret 2026 | 13:54 WIB

Pelepasan ekspor IKM kerajinan PT Indo Risakti ke London dan Prancis, dilakukan Dirjen IKMA Kementerian Perindustrian RI, Reni Yanita, di Bantul (10/3/2026).
Pelepasan ekspor IKM kerajinan PT Indo Risakti ke London dan Prancis, dilakukan Dirjen IKMA Kementerian Perindustrian RI, Reni Yanita, di Bantul (10/3/2026).

BANTUL – Industri kreatif di Kabupaten Bantul kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional.

Produk kerajinan tangan berupa storage (wadah penyimpanan) dan keranjang berbahan serat alam karya perajin lokal sukses melakukan ekspor ke dua kota mode dunia, London dan Prancis.

Keberhasilan ini merupakan buah manis dari konsistensi IKM (Industri Kecil Menengah) dalam mengikuti pameran internasional Ambiente selama tiga tahun berturut-turut (2023-2025) dengan fasilitasi dari Kementerian Perindustrian dan PT Indo Risakti Bantul.

Direktur PT Indo Risakti Riris Simanjuntak mengungkapkan bahwa misi utama mereka bukan sekadar bisnis.

Melainkan pemberdayaan masyarakat, khususnya kaum ibu di wilayah Bantul hingga Gunungkidul.

"Kami merangkul ibu-ibu di rumah agar mereka tetap produktif. Prinsip kami, jika ibunya menghasilkan (pendapatan), anak-anak pasti makan. Ini adalah cara kami memutar roda ekonomi rumah tangga di pedesaan," ujar Riris di Bantul (10/3/2026) saat pelepasan ekspor IKM kerajinan PT Indo Risakti.

Tak hanya memberikan pekerjaan, para perajin juga diberikan pelatihan teknis agar produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas ekspor.

Menariknya, produk yang diminati pasar Eropa ini justru berasal dari material yang sering dianggap limbah atau gulma, yakni enceng gondok dan pelepah pisang.

"Penggunaan enceng gondok dinilai memiliki nilai tambah ganda. Selain menjadi produk ekspor bernilai tinggi, pemanfaatan tanaman ini juga membantu menjaga ekosistem perairan dari kerusakan akibat pertumbuhan gulma yang tak terkendali," ujar Riris.

Menembus pasar Eropa bukan tanpa tantangan. Selain kualitas fisik, pembeli di luar negeri sangat peduli pada narasi di balik sebuah produk.

"Cara kami meyakinkan buyer di Eropa adalah dengan storytelling yang benar. Kami menceritakan bagaimana produk ini dibuat, siapa yang membuat, dan dampak lingkungannya. Namun, cerita itu harus nyata, bukan sekadar bungkus," tambahnya.

Ia mengatakan, meski sempat menghadapi kendala teknis seperti klaim barang berjamur akibat perbedaan iklim, IKM ini berhasil bangkit dengan bantuan teknologi pengeringan dan penstabil suhu ruang yang didapat melalui pendampingan dari Dinas dan Kementerian terkait.

Optimisme tetap tinggi meski kondisi ekonomi global dinamis.

Saat ini, selain pasar Eropa, produk kerajinan asal DIY ini mulai dilirik oleh pasar non-tradisional.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Reni Yanita menambahkan, beberapa negara seperti India, Mauritius, hingga French Polynesia mulai menunjukkan minat besar terhadap desain dan kualitas produk kerajinan serat alam Indonesia.

Dengan kapasitas produksi mencapai 6 kontainer per bulan (sekitar 1.500 pieces per kontainer), produk lokal ini siap terus mendunia melalui jalur laut via Tanjung Mas, Semarang. (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Tembus Pasar Dunia #kemenperin #Prancis #Kemenperindag #london #enceng gondok #Bantul #Kerajinan Tangan