BANTUL – Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA) ke-10 resmi dibuka hari ini, Sabtu (7/3/2026), di Jogja Expo Center (JEC).
Memasuki usia satu dekade, pameran mebel dan kerajinan terbesar di Jawa Tengah dan DIY ini mengusung visi besar melalui tema "The Right Sources for the Eco Lifestyle Products" dan "One Decade One Vision".
Event yang berlangsung hingga 11 Maret 2026 ini menjadi panggung bagi lebih dari 200 peserta pameran untuk memamerkan produk kriya kreatif berbasis keberlanjutan.
Presiden Direktur PT Jiffina Internasional Perkasa, Yuli Sugianto, menegaskan bahwa JIFFINA hadir sebagai motor penggerak bagi UMKM agar lebih berani mempresentasikan produk kreatif di kancah internasional.
"Pameran ini diikuti 200 lebih peserta yang sebagian besar adalah IKM berorientasi ekspor. Karakter produk dari DIY dan Jawa Tengah sangat kuat di sisi craft-nya," ujar Yuli dalam pembukaan JIFFINA 2026 di JEC.
Tahun ini, JIFFINA memperluas jangkauan dengan menggandeng buyer dari ASEAN dan internasional.
Tercatat lebih dari 300 buyer mancanegara diprediksi akan hadir.
"Meski ada tantangan krisis global, kami optimistis belanja daerah dan buyer dalam negeri juga menjadi potensi besar yang bisa ditangkap," tambahnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang hadir mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberikan catatan penting mengenai pergeseran paradigma pasar global.
Menurutnya, industri furnitur saat ini harus adaptif terhadap isu lingkungan.
"Produk kriya kita memiliki keunggulan fundamental karena berakar pada tradisi yang menghormati alam. Penggunaan material seperti bambu, rotan, dan serat alam bukan sekadar pilihan bahan, tapi bagian dari siklus kehidupan yang dipahami mendalam oleh perajin kita," ungkap Ni Made.
Ia juga mendorong agar industri lokal tidak hanya puas menjadi pemasok (supplier), tetapi mulai menguasai desain dan memperkuat identitas merek (branding) guna menjaga konsistensi kualitas di pasar internasional.
Dukungan penuh juga datang dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf RI).
Deputi Bidang Kreativitas, Budaya, dan Desain Ekraf RI, Yuke Sri Rahayu, memaparkan data statistik yang membanggakan bagi sektor kriya.
"Berdasarkan data BPS tahun 2025, subsektor kriya merupakan kontributor ekspor terbesar kedua di sektor ekonomi kreatif setelah fesyen, dengan nilai mencapai 12,03 miliar US Dollar," papar Yuke.
Yuke menekankan bahwa nilai jual produk Indonesia kini terletak pada narasi keberlanjutan.
"Pasar global menuntut produk yang memiliki cerita (storytelling) di balik proses produksinya, mulai dari inovasi desain hingga komitmen terhadap lingkungan," jelasnya. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin