Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jejak Sesar Opak Terlihat Jelas di Bukit Glondong Bantul, Lokasi Kurang Dikenal tapi Penting untuk Mitigasi Gempa

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 11 Februari 2026 | 13:42 WIB
Ilustrasi lokasi Sesar Opak.
Ilustrasi lokasi Sesar Opak.

BANTUL – Bukit Glondong di Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, kembali menjadi sorotan sebagai salah satu lokasi yang menampilkan jejak Sesar Opak secara sangat jelas di permukaan tanah.

Meski kalah populer dibandingkan Sesar Opak Bukit Mengger (SOBM) di Jetis, Bukit Glondong menawarkan bukti geologi yang kuat tentang keberadaan patahan aktif ini.

Peneliti dan pengamat kebumian dari The Ekliptika Institute, Marufin Sudibyo, membagikan temuan tersebut melalui utas di platform X pada 10 Februari 2026.

Dalam postingannya, ia menunjukkan foto outcrop batuan kapur yang memperlihatkan garis sesar berarah timur laut – barat daya (Sesar Opak) serta sesar geser lain berarah timur – barat yang sudah tidak aktif lagi.

"Sesar Opak adalah sesar aktif sepanjang sekitar 47 km dengan potensi magnitudo maksimum hingga M6,9," tulis Marufin, mengutip utas sebelumnya.

"Bagian utara sepanjang 20 km sudah melepaskan energi pada gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 (M6,4)."

"Sisa segmen selatan sekitar 27 km masih 'kalem' hingga kini, tapi berpotensi memicu gempa kuat di masa depan."

Marufin menekankan bahwa Bukit Glondong bukan lokasi wisata geologi mainstream seperti SOBM, namun justru memiliki nilai edukasi tinggi karena jejak sesar terpampang langsung di paras bumi tanpa perlu penjelasan rumit.

Temuan ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap ancaman sesar darat pasca-gempa tektonik M4,5 di wilayah Gunungkidul-Bantul pada 27 Januari 2026 lalu, yang dipastikan BMKG bersumber dari aktivitas Sesar Opak.

Gempa dangkal tersebut dirasakan luas di DIY dan sekitarnya, serta menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa rumah.

Banyak warganet yang merespons utas tersebut dengan campuran kekaguman dan kekhawatiran.

Beberapa mengaku baru menyadari garis retak di batuan adalah bukti sesar, sementara lainnya berbagi pengalaman pasca-gempa 2006, termasuk suara dentuman misterius dari arah sesar yang terdengar hingga berbulan-bulan.

Marufin juga menjawab pertanyaan publik soal lebar zona sesar.

Menurutnya, untuk perencanaan tata ruang, cukup menggunakan garis sesar sebagai acuan.

Di Jepang, misalnya, diterapkan zona penyangga 100 meter ke kiri dan kanan garis sesar yang harus dikosongkan dari bangunan, sementara di luar zona itu tetap boleh dibangun dengan penguatan struktur.

Para ahli geologi mengingatkan bahwa Sesar Opak tetap menjadi salah satu ancaman utama gempa darat di DIY.

Dengan sejarah destruktif pada 2006 yang menewaskan lebih dari 5.700 jiwa, segmen selatan yang belum bergerak besar menjadi perhatian khusus.

Pemerintah daerah dan BPBD DIY diharapkan terus meningkatkan edukasi serta pemetaan mikrozonasi gempa, terutama di sekitar jejak sesar yang teridentifikasi jelas seperti di Bukit Glondong.

Warga sekitar Piyungan dan daerah lintasan Sesar Opak diminta tetap waspada, mempersiapkan rencana evakuasi keluarga, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah setempat. (iwa)

Sumber: Utas X @marufins
(The Ekliptika Institute), data BMKG, dan catatan historis gempa Yogyakarta 2006.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kecamatan Piyungan #Bukit Glondong Bantul #kabupaten bantul #Desa Srimartani #patahan aktif #sesar opak #Bukit Glondong #Sesar Opak Bukit Mengger #bukti geologi