BANTUL - Peringati Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari kemarin (9/2), para wartawan di Bantul berziarah ke makam wartawan senior Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin di Padukuhan Gedongan, Kalurahan Trirenggo, Bantul. Tahun ini genap kematiannya yang telah memasuki tahun ke-30.
Mewakil wartawan senior, Sigit Purwita mengatakan, ziarah ini menjadi salah satu momentum untuk menyuarakan kebenaran yang diperjuangkan Udin sejak kematiannya Agustus 1996 silam.
"Mas Udin bagi saya bukan sekedar teman, tapi pahlawan dalam profesi wartawan," katanya Senin (9/2).
Ia mengatakan, Udin memiliki keberanian dalam menyuarakan kebenaran saat tekanan rezim Orde Baru. Pengorbanannya bukan hanya mempertaruhkan fisik saja, tetapi ia juga nyawanya.
Walaupun kasus penganiayaan hingga kematiannya 13 Agustus 1996 sudah dinyatakan kedaluwarsa, ia berharap motif yang melatarbelakangi kasus ini bisa terungkap.
Selama ini pihaknya hanya bisa menduga kasus kematian Udin berkaitan dengan masalah pemberitaan.
"Kita mendorong aparat menyampaikan ke publik soal motif sebenarnya, meskipun pelaku yang sebenarnya tidak pernah ditangkap," terangnya.
Kalangan wartawan Jogjakarta pun berharap pemerintah melakukan kajian mendalam agar Udin bisa dijadikan pahlawan nasional di bidang pers.
Ia berharap keberanian Udin saat menyuarakan kebenaran bisa dicontoh keteladanannya.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Bantul Jumakir mengatakan, ziarah ini menjadi bagian wartawan lain berjuang dalam memberitakan kebaikan. "Semangat Udin bisa menjadi contoh," katanya.
Ia juga menanggapi mengenai dorongan untuk menetapkan Udin sebagai pahlawan nasional seperti Marsinah sebagai pahlawan buruh.
"Ini sangat membutuhkan perhatian," tuturnya.
Ia berharap dengan memperingati HPN 2026, para wartawan tidak hanya melakukan pemberitaan saja, namun diharapkan dapat memberikan solusi khususnya untuk kebaikan Bantul. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun