BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat tren stunting di Bantul mengalami kenaikan dalam tiga tahun terakhir. Hal ini dikarenakan meningkatnya kasus berat bayi lahir rendah (BBLR) dan panjang badan lahir rendah (PBLR) pada 2023 dan 2024.
"BBLR dan PBLR ini menjadi faktor risiko terjadinya stunting," kata Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina Senin (26/1).
Tercatat pada 2023, ada sebanyak 2.863 balita mengalami stunting. Angka tersebut naik pada 2024 menjadi 3.417 balita. Sedangkan pada 2025, ada 3.673 balita stunting.
Meningkatnya kasus stunting, juga dipengaruhi dengan pola asuh dan pola makan yang kurang tepat. Ditambah dengan perokok yang merokok di dalam rumah juga cukup tinggi.
Kasus anemia pada ibu hamil, serta rendahnya konsumsi protein hewani pada balita juga turut menjadi penyebab naiknya kasus stunting. “Serta partisipasi masyarakat ke Posyandu juga mulai menurun,” bebernya.
Saat ini, Dinkes Bantul berupaya untuk menguatkan konvergensi lintas sektor dalam penanggulangan stunting dan gizi buruk. Monitoring evaluasi program gizi, pemantauan pemberian makanan tambahan (PMT) lokal, serta pemberian susu pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK).
"Kita juga ada pendampingan dan pemeriksaan balita stunting dan gizi buruk oleh dokter spesialis di 27 puskesmas," tuturnya.
Upaya lainnya adalah dengan skrining anemia pada perempuan kelas 7 dan 10. Kemudian memberikan tablet tambah darah seminggu sekali.
Dia pun mengimbau, agar orang tua selalu membawa anak balitanya ke Posyandu. Rutin memberikan protein hewani sesuai kebutuhan balita dan sesuai arahan menu yang terdapat di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
"Terakhir menanyakan status gizinya kepada kader dan konsultasi gizi kepada petugas puskesmas," pintanya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita