Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gropyokan, Petani di Sumbermulyo Gunakan Emposan untuk Basmi Hama Tikus

Cintia Yuliani • Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:25 WIB
Petani di Bantul sedang menggunakan emposan untuk membasmi hama tikus Jumat (23/1)
Petani di Bantul sedang menggunakan emposan untuk membasmi hama tikus Jumat (23/1)
 
BANTUL -  Serangan hama tikus masih merajalela di sawah Padukuhan Kedon, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro. 
 
Tanaman padi yang baru berusia sekitar 35 hari dilaporkan sudah rusak akibat dimakan tikus. Kondisi tersebut membuat petani setempat khawatir gagal panen, sehingga dilakukan upaya pembasmian hama menggunakan metode emposan.
 
Baca Juga: Lagi, Fenomena Tanah Ambles Terjadi di Kemiri: Klaim Tak Membahayakan, Aktivitas Pertanian Tetap Berjalan
 
Ketua Kelompok Tani Mandiri Kedon Yanto mengatakan, serangan tikus kali ini tergolong parah. 
 
“Kalau sudah diserang, batangnya dimakan sampai berserakan. Bagi petani ini sangat sulit dikendalikan karena jumlah tikusnya sangat banyak,” ujarnya setelah melakukan pembasmian hama tikus menggunakan emposan di lahan sawahnya Jumat (23/1). 
 
Ia menjelaskan, padi yang baru berumur sekitar 35 hari sudah menjadi sasaran tikus. Jika tidak segera diantisipasi, dikhawatirkan serangan akan semakin parah saat padi memasuki fase keluar malai. 
 
Baca Juga: Penghentian PT SAK di Kulon Progo Dianggap Maladministrasi, Ombudsman RI DIY Layangkan Surat ke Bupati Kulon Progo
 
“Kalau sudah umur 50 hari ke atas dan mulai keluar malai itu justru lebih parah. Tikus memang lebih suka saat padi baru keluar malai,” jelasnya.
 
Yanto mengungkapkan, petani sangat cemas karena jika hama tikus tidak segera dikendalikan, potensi gagal panen cukup besar. Oleh karena itu, Kelompok Tani Mandiri Kedon mendatangi kantor Regu Perlindungan Tanaman (RPT) Bambanglipuro untuk meminta bantuan pengendalian hama.
 
“Kebetulan saya juga diberi obat untuk membasmi tikus,” katanya.
 
Baca Juga: Beredar Kabar Sopir Ambulans di DIY Akan Protes ke RSUD Sleman Terkait Parkir, Pihak Rumah Sakit Beri Klarifikasi, Begini Penjelasannya
 
Ia menambahkan, serangan tikus pada musim tanam kali ini merupakan yang terparah dibandingkan musim-musim sebelumnya. Serangan tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi juga meluas hingga ke wilayah utara kalurahan. 
 
Akibat serangan tersebut, Yanto memperkirakan penurunan produksi padi bisa mencapai 20 hingga 30 persen per hektare.
 
Sementara itu, Petugas Regu Perlindungan Tanaman (RPT) Bambanglipuro, Suwanto mengatakan, musim tanam pertama (MT I) saat ini didominasi tanaman padi, sehingga populasi tikus meningkat.
 
“Sehingga kami berinisiatif melakukan gropyokan tikus,” jelasnya.
 
Menurut Suwanto, serangan tikus di wilayah tersebut berpotensi menyebabkan kerugian besar hingga gagal panen jika tidak segera ditangani.
 
Baca Juga: Difabel Kalurahan Jatisarono Kulon Progo Terima Pelatihan Kebencanaan dan Kedaruratan
 
“Melihat kondisinya, ancamannya bisa sampai 30 persen karena padi baru berumur kurang lebih satu bulan sudah dimakan tikus. Kalau tidak ditangani, kerugiannya bisa lebih besar, bahkan bisa gagal panen,” terangnya.
 
Ia berharap upaya pengendalian yang dilakukan dapat mencegah terjadinya gagal panen. Salah satunya dengan gerakan emposan tikus yang dilakukan secara bersama-sama.
 
Suwanto menyebutkan, luas lahan persawahan di wilayah tersebut mencapai sekitar 33 hektare dengan potensi produksi 8 hingga 8,5 ton per hektare. 
 
Baca Juga: Lagi, Fenomena Tanah Ambles Terjadi di Kemiri: Klaim Tak Membahayakan, Aktivitas Pertanian Tetap Berjalan
 
“Kalau tidak diatasi dan dibiarkan, bisa mengurangi hasil produksi sampai 50 persen,” ujarnya.
 
Ia menjelaskan, secara ilmiah munculnya hama tikus dipengaruhi oleh kondisi pematang yang banyak ditumbuhi rumput serta sanitasi lingkungan yang kurang baik. Untuk itu, sebelumnya telah dilakukan kegiatan gotong royong membersihkan saluran irigasi dan lingkungan sekitar sawah.
 
“Usaha kedua yang kita lakukan adalah gropyokan langsung ke liang-liang atau rumah tikus pada pagi hari,” tambahnya.
 
Suwanto juga memaparkan proses gropyokan dengan metode emposan. Petani maupun petugas terlebih dahulu mengidentifikasi lubang tikus yang masih aktif.
 
Baca Juga: Buntut Peristiwa Geger Sepehi, Trah HB II Bakal Seret Inggris ke Pengadilan Internasional: Ini Alasannya!
 
“Lubang yang masih dipakai biasanya terlihat bekas jalannya agak basah. Setelah itu emposan dinyalakan, dimasukkan ke lubang, lalu ditutup lumpur agar asapnya masuk ke rumah tikus,” jelasnya.
 
Setelah sekitar 10 menit, lubang akan digali kembali untuk mengecek hasil emposan. Tikus yang terpapar asap emposan tersebut diharapkan mati di dalam liang. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kalurahan Sumbermulyo #gropyokan #emposan #serangan hama tikus #Gagal Panen #Kapanewon Bambanglipuro #Petani #Padukuhan Kedon #tanaman padi