BANTUL - Keberadaan guest house menjadi ancaman bagi hotel di Kabupaten Bantul. Hal ini karena harga yang ditawarkan lebih murah dan bisa digunakan untuk banyak orang.
Ketua Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul Yohanes Hendra Dwi Utomo menjelaskan, maraknya guest house tidak dibarengi dengan dikantonginya izin seperti halnya homestay dan hotel. Sehingga banyak rumah yang disewakan sebagai akomodasi dengan tarif relatif murah. Bahkan bisa menampung puluhan orang. Hal ini menjadi persaingan tidak sehat bagi hotel dan penginapan resmi.
“Ada satu rumah disewa Rp 1,5 juta bisa diisi 20 orang, bahkan Rp 1 juta bisa menampung 15 orang,” ujarnya mencontohkan Senin (19/1).
Hal Ini dapat menjadi pekerjaan rumah bagi para pemangku kebijakan di masing-masing daerah. Ia menekankan, organisasi perangkat daerah (OPD) teknis perlu lebih cermat dalam menerbitkan perizinan agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Jangan sampai izin sudah dikeluarkan, namun pengawasan terhadap pelaksanaannya tidak berjalan. Sehingga menimbulkan polemik di lapangan.
Perlunya untuk mengecek secara cermat apakah penginapan tersebut benar-benar guest house, pondok wisata, atau bentuk usaha lainnya.
"Terus pajaknya PAD-nya dicek, ini kan harus semuanya sinkron. Jangan sampai usaha-usaha akomodasi yang terbuka aman dan legal menjadi turun,” jelasnya.
Kondisi ini pun turut menekan tingkat okupansi di Bantul selama libur Isra Mikraj. Angkanya hanya berkisar 70 persen hingga 72 persen. “Tidak terlalu tinggi," sebutnya.
Jika dibanding hari biasa pada periode yang sama, kata dia, okupansi hotel mencapai 60 persen. Artinya dengan adanya libur panjang Isra Mikraj, okupansi hotel di Bantul hanya naik sekitar 12 persen. "Sebenarnya targetnya mencapai 80 persen, anggap saja ini sebagai sebuah bonus di awal tahun," lontarnya.
Sementara itu, Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Markus Purnomo Adi mengatakan, sebanyak 22.798 wisatawan ke destinasi wisata di Bantul pada 17-19 Januari. "Dalam tiga hari itu dapat menyumbang PAD Rp 328.202.000, dengan jumlah wisatawan terbanyak tetap di Parangtritis," katanya.
Dia pun mengimbau agar wisatawan tetap memperhatikan kondisi cuaca. Kemudian mengikuti dan menaati petunjuk dan arahan dari pengelola atau tim SAR yang ada di objek wisata. Mengingat liburan saat ini memasuki musim penghujan. “Bila mendapat sesuatu yang tidak diinginkan, mohon berkoordinasi dengan pengelola destinasi,” tuturnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita