Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Hujan, Sampah Kiriman Kembali Menumpuk di Muara Sungai Opak

Cintia Yuliani • Selasa, 13 Januari 2026 | 22:55 WIB

 

HILIR: Tumpukan sampah kayu di Muara Sungai Opak Pantai Samas Selasa (13/1).
HILIR: Tumpukan sampah kayu di Muara Sungai Opak Pantai Samas Selasa (13/1).

BANTUL - Muara Sungai Opak di kawasan Pantai Samas kembali dipenuhi tumpukan sampah kiriman. Berasal dari Sungai Winongo dan Sungai Opak. Kondisi ini kerap terjadi setiap musim hujan, terutama saat debit air sungai meningkat akibat banjir.

Anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Rejosari, Kalurahan Srigading, Sanden Sancoko mengatakan, kiriman sampah sudah terlihat sejak beberapa hari terakhir. “Kalau musim hujan memang seperti ini. Yang paling banyak itu sekitar satu minggu lalu,” ungkapnya Selasa (13/1). 

Menurutnya, sampah yang terbawa arus sungai sebagian besar berupa material kayu dan bambu. Sementara sampah plastik jumlahnya relatif lebih sedikit, meski tetap terlihat di sejumlah titik.

Sancoko menambahkan, sampah kiriman tersebut membentang dari kawasan muara hingga Pantai Samas dengan panjang sekitar satu kilometer. 

“Kalau yang masuk ke bawah pohon mangrove yang sudah besar, kami biarkan saja. Nanti pembusukannya bisa jadi pupuk alami,” ujarnya.

Namun demikian, sampah yang naik ke daratan kering kerap dibakar oleh nelayan dan pemancing karena dinilai mengganggu aktivitas melaut. “Nelayan yang pakai jaring seret jadi terganggu, tidak bisa menjaring di pinggiran,” sebutnya.

Apabila sampah tidak segera dimusnahkan, material berpotensi kembali terseret ombak dan menutup area mangrove. Saat kemarau dengan gelombang besar.

Terkait penanganan sampah, Sancoko berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pengangkutan. Tetapi juga melakukan kajian pemanfaatan.

“Menurut kami lebih baik diolah, misalnya jadi bubur kayu atau bahan baku kertas. Bisa melibatkan dinas atau perguruan tinggi,” katanya.

 

Sebab menurutnya, membuang sampah ke lokasi lain bukan solusi jangka panjang. Justru berpotensi menambah beban persoalan lingkungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengatakan, jenis sampah yang ditemukan di kawasan pantai cukup beragam. Salah satunya sampah kayu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, DLH Bantul melakukan evakuasi sampah kayu untuk kemudian diolah melalui proses insinerasi di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST).

“Namun, sebagian sampah kayu juga kami berdayakan dengan menyerahkannya kepada masyarakat yang membutuhkan,” ucapnya. 

Dengan menggandeng pelaku usaha kecil dan menengah, lanjutnya, sampah kayu bisa diolah menjadi produk bernilai guna. (cin/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#sungai opak #Banjir #kayu #sampah kiriman #Pantai Samas #sungai winongo #Sampah #DLH Bantul #muara sungai opak