BANTUL - Warga Padukuhan Singosaren 3 RT 6, Kalurahan Singosaren, Kapanewon Banguntapan, memergoki dua pria yang diduga melakukan tindakan asusila sesama jenis di belakang kamar mandi Lapangan Wana Desa Singosaren, Minggu (11/1) sekitar pukul 21.30.
Ketua RT 6 Padukuhan Singosaren 3 Alan Ramaditia mengatakan, awal kejadian bermula saat salah seorang pemuda di wilayahnya mencurigai adanya sepeda motor yang terparkir di depan pendopo Wana Desa Singosaren.
"Karena sebelumnya pompa air di kamar mandi Wana Desa sempat hilang, kami mengira ada maling,” jelasnya saat dikonfirmasi Senin (12/1).
Pemuda itu kemudian menghubungi ketua pemuda RT 6. Bersama-sama mereka mendatangi lokasi di sekitar sepeda motor yang terparkir. Saat dilakukan pengecekan, warga menemukan dua pria berada di belakang kamar mandi.
“Mereka jaraknya sekitar 15 meter saat ditemukan. Mungkin karena mendengar suara motor, jadi mereka menjauh,” katanya.
Dua pria itu masing-masing berinisial FWA, 26, warga Jogja, dan TS, 53, warga Klaten. Keduanya kemudian diinterogasi oleh Alan selaku ketua RT.
Awalnya, warga mencurigai keduanya sebagai pelaku pencurian. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ditemukan barang-barang mencurigakan seperti kunci T atau peralatan lain.
Dari hasil interogasi, FWA semula mengaku tidak mengenal TS. Ia menjelaskan berada di lokasi tersebut karena baru saja pulang dari rumah temannya dan merasa ingin buang air kecil.
FWA kemudian berhenti di kamar mandi Wana Desa Singosaren. Namun karena pintu kamar mandi terkunci, ia mengaku buang air kecil di belakang kamar mandi.
Sementara itu, TS juga memberikan keterangan serupa. TS mengaku baru saja dari Jalan Bantul dan berniat menuju terminal untuk pulang ke Klaten dengan menggunakan ojek.
Namun saat melintas di pertigaan Jalan Pleret, ia mengaku ingin buang air kecil. TS kemudian berputar arah dan menemukan kamar mandi di Wana Desa Singosaren.
Dari penjelasan TS itu, ia mulai merasa curiga karena alasan yang disampaikan dinilai tidak masuk akal. Ia kemudian kembali melakukan interogasi terhadap TS.
"Sebenarnya kami mau percaya dengan keterangan mereka. Tapi saya masih curiga dengan yang TS, karena penjelasannya berbelit-belit dan tidak masuk akal,” ujarnya.
Kecurigaan warga semakin menguat setelah dilakukan pengecekan terhadap telepon genggam milik TS. Di dalam ponsel itu ditemukan percakapan berisi kode-kode tertentu.
Awalnya, mereka menduga percakapan itu berkaitan dengan pemesanan jasa pekerja seks komersial (PSK). Namun setelah dibaca lebih lanjut, ditemukan percakapan dengan panggilan “mas”, yang menunjukkan percakapan itu dilakukan sesama pria, bukan dengan perempuan.
Ia kemudian meminjam telepon genggam milik FWA. Namun percakapan di ponsel itu diketahui telah dihapus. Selanjutnya, Alan berinisiatif menelepon TS menggunakan ponsel FWA melalui sambungan telepon seluler biasa. "Dari situ baru ketahuan,” ujarnya.
Setelah kembali diinterogasi, TS akhirnya mengakui dia mengenal FWA. Berdasarkan keterangannya, keduanya baru saling mengenal sekitar dua hari melalui media sosial Facebook. Mereka kemudian berjanji bertemu di kawasan Alun-Alun Utara Jogja.
Dari Alun-Alun Utara, keduanya berkeliling sebelum rencana mengantarkan TS ke Terminal Giwangan, karena TS berniat pulang ke Klaten. Namun sebelum menuju terminal, keduanya memilih berputar melalui gang-gang sepi hingga akhirnya sampai di kawasan Wana Desa Singosaren.
Lokasi itu dipilih karena pada malam hari kondisinya cukup gelap dan sepi. Penerangan hanya berasal dari lampu biasa, serta letaknya berada di bagian utara desa sehingga jarang dilalui warga.
Dari keterangan TS, ia mengaku mengajak FWA untuk melakukan tindakan asusila di belakang kamar mandi Wana Desa Singosaren. Saat ditanya lebih lanjut mengenai apa saja yang telah dilakukan, TS mengaku keduanya sempat berpelukan dan berciuman.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto mengatakan, Bhabinkamitibmas Polsek Banguntapan telah melakukan problem solving untuk mengatasi permasalahan ini.
“Setelah dilakukan mediasi akhirnya sepakat untuk diselesaikan secara kekeluargaan dituangkan dalam surat pernyataan bersama,” katanya.
Berdasarkan pantauan Radar Jogja, Wana Desa Singosaren memiliki fasilitas lapangan sepak bola, lapangan voli, serta pendopo yang cukup luas. Selain itu, terdapat dua kamar mandi umum. Lokasinya juga tidak jauh dari Ringroad Timur dan di sekitar kawasan itu terdapat banyak rumah kos.
Salah seorang warga setempat Dwi Marsono yang juga menjabat staf Seksi Pelayanan Kalurahan Singosaren menyampaikan, Wana Desa Singosaren selama ini memang kerap digunakan sebagai tempat beristirahat oleh orang-orang yang melakukan perjalanan jauh.
Hal itu karena di lokasi itu terdapat pendopo dan posisinya tidak jauh dari Ringroad Timur. “Ronda di sini sebenarnya rutin, peraturan dan pengamanan juga cukup ketat,” terangnya. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun