Program pengabdian tersebut berangkat dari pentingnya membranding Kelompok Wanita Tani (KWT) agar memiliki identitas yang kuat dan mampu bersaing, baik di pasar tradisional maupun di media sosial.
Maka dari itu, kelompok ini mensosialisasikan dan memberikan pelatihan terkait cara membranding media sosial, membuat video profil, dan video lainnya yang menarik.
Ketua kelompok Aksinara Candra Audia Nugraha mengungkapkan, permasalahan utama yang dihadapi KWT di Padukuhan Biro yang memiliki nama KWT Ngudi Rejeki ini adalah persoalan pengelolaan tanah dan pemanfaatan media sosial.
Selama ini, para anggota KWT baru mulai mengenal media sosial dan sebagian besar masih kurang melek digital sehingga belum mampu mengelolanya secara optimal.
“Karena itu kami mencoba membantu dengan melatih mereka sekaligus membukakan platform media sosialnya. Selain itu, mereka juga ingin masuk ke ranah pemasaran dan dilirik oleh dinas setempat. Yang bisa kami bantu saat ini adalah melalui media sosial,” jelasnya Sabtu (3/1).
Menurutnya, KWT Ngudi Rejeki memiliki harapan besar agar hasil pemberdayaan dapat membuka peluang untuk mengikuti berbagai event.
Namun, keterbatasan dalam pemasaran membuat mereka kesulitan bersaing dengan pelaku pasar lain, baik di pasar tradisional maupun di dunia digital.
Dalam program tersebut, mahasiswa Amikom Yogyakarta membantu pembuatan logo KWT serta mengelola konten Instagram yang berisi kegiatan-kegiatan KWT.
Ia mengaku kagum dengan kekompakan para anggota KWT yang rutin melakukan kegiatan, termasuk piket harian pagi dan sore.
“Menurut saya ini sayang sekali kalau tidak diekspos. Kegiatannya rutin, kompak, hasil panennya juga ada. Karena itu kami buatkan logo dan video profilnya,” katanya.
Ia berharap, media sosial yang dibuat oleh kelompoknya bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh KWT Ngudi Rejeki.
Ke depan, Kelompok Aksinara juga memberikan metode dan pelatihan pembuatan konten sederhana serta cara mendokumentasikan kegiatan secara lebih estetik agar menarik di media sosial. Sebagai contoh awal, mahasiswa menyediakan enam konten yang dapat dijadikan acuan.
“Harapannya dengan enam contoh konten yang kami buat ini, ibu-ibu bisa mandiri melanjutkan media sosialnya. Konten yang kami berikan juga tidak sulit, saya yakin ibu-ibu bisa melanjutkannya,” katanya.
Ia menegaskan, branding menjadi hal yang sangat penting bagi KWT. Pasalnya, KWT ada di hampir setiap Kalurahan dan masing-masing memiliki keunggulan berbeda, mulai dari jenis tanaman hingga hasil panen.
“Kalau tidak punya identitas, KWT akan sulit dikenali. Dengan branding ini, kita bisa menciptakan identitas sekaligus tanda pengenal bahwa ini adalah KWT hasil dari Padukuhan Biro,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua KWT Ngudi Rejeki Nastuti mengatakan, selain diajari membranding sebuah KWT di media sosial, kelompoknya juga didatangkan pemateri dengan penyampaian materi mengenai manajemen kelompok dengan baik.
Suatu KWT dapat berkembang dan lebih maju, memang diperlukan manajemen yang baik. Menurutnya, manajemen yang tertata akan menjaga konsistensi organisasi sehingga anggota tidak berhenti satu per satu.
“Selama ini ibu-ibu lebih fokus pada pekerjaan di lapangan, sementara manajemen sering dikesampingkan, padahal justru itu yang utama agar organisasi bisa berjalan konsisten,” ujarnya.
Nastuti menilai pendampingan yang dilakukan mahasiswa Amikom Yogyakarta tersebut sangat bermanfaat bagi KWT Ngudi Rejeki.
Ia berharap, melalui kegiatan tersebut, KWT yang dipimpinnya dapat semakin maju, terutama dalam hal branding dan pemasaran.
Ia mengaku selama ini kelompoknya belum memiliki branding maupun logo. Untuk pemasaran, hasil panen biasanya hanya dibeli oleh anggota, sehingga belum bisa merambah ke luar.
“Dengan adanya pendampingan ini, kami berharap pemasaran hasil KWT bisa lebih luas,” katanya.
Sementara itu, Dukuh Biro Noviansyah menilai, kegiatan pendampingan yang dilakukan mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta sangat relevan dengan kondisi saat ini, terutama di tengah perkembangan era digital.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi menjadi hal yang penting bagi KWT, tidak hanya dalam aktivitas tanam-menanam, tetapi juga ke depan dalam pengolahan produk hingga pemasaran.
“Kegiatan ini dapat memberikan mengetahuan yang baru bagi kami dan mampu memberikan kebermanfaatan bagi anggota KWT di padukuhan kami,” katanya.
Selain pelatihan pengelolaan organisasi agar KWT dapat berjalan lebih baik, kegiatan tersebut juga menjadi sarana transfer pengetahuan baru bagi warga dan anggota KWT.
Noviansyah berharap, meski saat ini kegiatan masih berupa pelatihan dan sosialisasi, ke depan ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan secara nyata dalam praktik sehari-hari.
Dengan demikian, pengetahuan yang diberikan mahasiswa tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi mampu memotivasi anggota KWT agar lebih bersemangat dalam mengembangkan sektor pertanian dan pemberdayaan di Padukuhan Biro. (cin)
Editor : Bahana.