YOGYAKARTA – Gelaran bergengsi Jogja International Art Fair (JIAF) 2025 resmi berakhir pada Jumat (2/1/2026). Pameran yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) ini menyisakan kesan mendalam, terutama berkat kehadiran karya fenomenal Trinity Art milik maestro Sam Sianata.
Selama tiga hari penyelenggaraan (31 Desember 2025 – 2 Januari 2026), Trinity Art menjadi salah satu magnet utama bagi ribuan pengunjung. Karya ini dinilai menonjol karena tidak hanya menawarkan estetika visual, tetapi juga membawa pesan filosofis yang kuat tentang kebangsaan.
Pesan Persaudaraan di Balik Trinity Art
Maestro Sam Sianata, atau yang akrab disapa Liem Sian An, mengungkapkan bahwa Trinity Art adalah manifestasi dari kegelisahan dan harapannya terhadap harmoni sosial.
"Saya ingin menghadirkan karya yang mengajak pengunjung merenung tentang persaudaraan, harmoni, dan kesadaran kolektif sebagai bangsa yang majemuk," ujar Sam Sianata saat memberikan keterangan kepada media, Sabtu (3/1).
Antusiasme pengunjung terlihat dari kerumunan yang konsisten memadati area pameran Sam Sianata. Mulai dari kolektor, kurator, akademisi, hingga masyarakat umum tampak terlibat diskusi mendalam mengenai makna simbolik di balik goresan warna Trinity Art.
Apresiasi dari Wakil Wali Kota Yogyakarta
Daya tarik Trinity Art juga memikat tokoh penting daerah. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, SE., MM., menyempatkan diri hadir secara langsung untuk mengapresiasi karya sang maestro.
"Bahkan Bapak Wakil Walikota Jogja Wawan Harmawan sempat beranjangsana dan berbincang dengan saya secara langsung," ungkap Sam Sianata, sosok yang kerap dijuluki sebagai pelukis "satu triliun" tersebut.
Kehadiran Trinity Art di JIAF 2025 mempertegas posisi Sam Sianata sebagai perupa yang konsisten menggunakan seni sebagai instrumen soft diplomacy untuk menyuarakan kedamaian dan kesetaraan manusia.
JIAF 2025: Etalase Seni Internasional di Jogja
Pameran JIAF tahun ini menjadi salah satu yang terbesar dengan menampilkan lebih dari 800 karya lukis hasil kreativitas 224 seniman dari Indonesia dan mancanegara.
Bagi Sam Sianata, suksesnya pameran ini adalah bukti nyata bahwa industri kreatif tanah air siap bersaing di kancah global. "Pameran ini sekaligus menegaskan bahwa seni rupa Indonesia memiliki daya saing dan karakter kuat untuk berdiri sejajar di panggung seni internasional," pungkasnya.
Meski pameran telah ditutup, resonansi gagasan dari Trinity Art diharapkan terus menginspirasi masyarakat untuk melihat seni sebagai bagian penting dari pembangunan peradaban yang humanis. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin