Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lima Padukuhan di Bantul Ini Masuk Program Kampung Proklim, Bangun Kesadaran dan Keterlibatan Aktif Warga untuk Menjaga Lingkungan

Cintia Yuliani • Kamis, 25 Desember 2025 | 04:15 WIB
 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi Nugroho.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi Nugroho.
 
BANTUL - Lima padukuhan di Bantul telah masuk dalam Program Kampung Iklim (Proklim) sebagai upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, termasuk pengendalian emisi gas rumah kaca di tingkat lokal.
 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi Nugroho menjelaskan, proklim memiliki beberapa kategori yakni pratama, madya, utama hingga lestari.
 
Tahun in DLH Bantul telah melakukan pendampingan dan pelatihan terhadap sejumlah Kampung Proklim dengan berbagai kategori. 
 
Baca Juga: Konser Jogja Hanyengkuyung Sumatera Berhasil Kumpulkan Donasi Sebesar Rp 836 Juta, Masih Dibuka hingga Lima Hari ke Depan
 
Terdapat dua padukuhan yang termasuk dalam kategori utama yakni Padukuhan Kaligatuk, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan dan Padukuhan Sanden, Kalurahan Murtigading, Kapanewon Sanden. 
 
“Padukuhan Tonalan dan Selogading di Kalurahan Argodadi serta Padukuhan Kanutan Kalurahan Sumbermulyo masih masuk dalam kategori madya,” jelasnya saat dihubungi lewat telepon Selasa (23/12/2025).
 
Menurutnya, proklim merupakan program yang dirancang untuk membangun kesadaran sekaligus keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
 
Baca Juga: Antisipasi Peningkatan Permintaan saat Nataru, DKUKMPP Bantul Minta Tambahan Kuota Elpiji 3 Kilogram 
 
“Upaya kami adalah melalui program pembinaan dan pendampingan terhadap kampung atau padukuhan, sehingga pelaksanaan programnya bisa diedukasi, mengikuti regulasi yang ada, dan layak masuk kriteria kampung Proklim,” jelasnya.
 
Ia mengungkapkan, latar belakang pelaksanaan Proklim tidak lepas dari tantangan pengelolaan lingkungan yang semakin kompleks.
 
Melalui program ini, pemerintah daerah berupaya memastikan kondisi lingkungan tetap terkendali sekaligus selaras dengan kebijakan nasional.
 
Baca Juga: Sleman Dapat Predikat Indeks Wisata Petualangan Termurah, Jangan Artikan sebagai Murahan
 
“Program lingkungan itu dari hari ke hari semakin berkembang dan semakin kompleks. Salah satu upaya untuk memastikan lingkungan tetap terkendali adalah dengan mengikuti program ini,” ujarnya.
 
Menurut Bambang, Proklim memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Jika dijalankan dengan baik, program ini diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup warga, tidak hanya dari aspek lingkungan, tetapi juga sosial dan ekonomi.
 
“Diharapkan bisa menurunkan risiko bencana alam maupun bencana sosial, Masyarakat menjadi lebih peduli dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya,” paparnya.
 
Baca Juga: UMP DIY 2026 Naik Rp 153 Ribu, Segini Besaran Kenaikan di Masing-Masing Kabupaten Kota: Buruh Nilai Masih Jauh dari Hidup Layak
 
Bambang menjelaskan, sasaran utama Program Kampung Proklim memang berada di level padukuhan atau kalurahan.
 
Hal ini karena pengelolaan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim paling efektif dilakukan di tingkat lokal.
 
“Bahkan bisa sampai RW. Tapi saat ini fokus kami kebanyakan di padukuhan,” jelasnya.
 
Pendampingan dan pelatihan terhadap kampung Proklim tidak dilakukan secara instan.
 
Baca Juga: Bupati Kulon Progo Agung Setyawan Memastikan Posyan dan Gereja Siap Menyambut Nataru, Posyan Diharapkan Beri Ruang Wisatawan dan Pemudik
 
DLH Bantul telah melakukan pendampingan selama satu hingga dua tahun sebelum suatu padukuhan dinilai siap masuk dalam kategori tertentu.
 
Aspek-aspek yang disiapkan antara lain pengelolaan lingkungan, pengelolaan sampah, pemanfaatan bahan organik oleh ibu rumah tangga, serta penanaman tanaman produktif, 
 
“Hingga integrasi dengan program kampung sehat dan pengembangan ekonomi kecil,” terangnya.
 
Ia menegaskan Proklim bukanlah program baru. Secara nasional, program ini telah dikembangkan sejak 2016 dan memiliki dasar hukum yang kuat.
 
Baca Juga: Bulat, UMK Kebumen 2026 Jadi Rp 2,4 Juta, Naik 6,2 Persen atau Rp 140 Ribu
 
Dasarnya Undang-Undang Nomor 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kemudian secara teknis diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.84 Tahun 2016. “Jadi ini program yang sudah cukup lama,” katanya.
 
Dari lima padukuhan yang telah masuk Proklim, DLH Bantul juga mencatat adanya hasil nyata.
 
Padukuhan Sanden dan Padukuhan Kaligaduk bahkan baru saja menerima penghargaan nasional sebagai Kampung Proklim kategori utama.
 
Baca Juga: Sudah Dianggarkan, Pesta Kembang Api di Alun-Alun Kota Magelang Tergantung Daerah Lain
 
Menurutnya penghargaan tersebut hasil dari kolaborasi yang baik antara DLH, masyarakat kampung, stakeholder lain, pemerintah kapanewon, kalurahan, dukuh hingga RT. 
 
“Tanpa kolaborasi, hasil maksimal tidak mungkin tercapai,” ungkapnya.
 
Ke depan, DLH Bantul menargetkan lima padukuhan tersebut dapat naik ke kategori tertinggi, yakni kategori lestari.
 
Baca Juga: Frédéric Injaï Akui Pemain PSS Sleman dalam Grafik Positif, Siap Hadapi Persipal Palu FC 
 
Saat ini, pihaknya masih melakukan identifikasi dan pemetaan kesiapan masing-masing wilayah.
 
“Kategori lestari ini level paling atas. Karena untuk mencapai kategori ini, satu kampung Proklim harus mampu membina minimal 10 kampung Proklim lainnya,” pungkasnya. (cin)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#emisi gas rumah kaca #Bantul #menjaga lingkungan #padukuhan #proklim