BANTUK - Pemkab Bantul getol menggencarkan pembangunan infrastruktur jalan. Namun, program itu juga harus dibarengi dengan pembangunan nonfisik. Yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
"KUALITAS manusianya harus di-upgrade," tegas Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo di ruang kerjanya pekan lalu.
Hanung memahami alasan upaya pemkab yang serius mencanangkan rencana pembangunan infrastruktur jalan.
Itu, antara lain, dipicu minimnya alokasi anggaran perbaikan jalan selama beberapa tahun terakhir. Khususnya saat pandemi Covid-19.
"Jalan banyak yang rusak. Merata di seluruh wilayah. Warga yang mengeluhkan hal itu juga tidak sedikit," ucapnya.
Namun, Hanung mengingatkan, komitmen pemerintah pusat yang menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,4 persen pada 2026 harus direspons dengan baik. Pemkab harus mengambil peran.
Menurutnya, peran yang bisa diambil pemkab adalah memperkuat ekonomi lokal.
"Cara untuk memperkuat ekonomi lokal sangat banyak," sebutnya.
Di antara caranya adalah pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, ada banyak kelompok masyarakat yang bisa menjadi sasaran program pemberdayaan.
Misalnya, pelaku usaha mikro kecil dan menengah, kelompok wanita tani, kelompok tani, karang taruna, hingga peternak sapi maupun kambing.
"Program kegiatannya disesuaikan dengan kebutuhan kelompok dan perkembangan pasar," ujarnya.
Baca Juga: Latih Anggota Jaga Komunikasi Radio, Orari DIY Gelar Lomba Lacak Sinyal untuk Skenario Bencana
Bidang peternakan, Hanung mencontohkan, sangat menjanjikan. Baik peternakan sapi maupun kambing.
Kambing, misalnya. Kebutuhan daging kambing di Kabupaten Bantul sangat tinggi.
Itu seiring menjamurnya bisnis sate klathak. Sentra kuliner sate klathak di wilayah Kapanewon Pleret setidaknya membutuhkan 700 ekor tiap hari.
"Dan, suplai dari peternak lokal belum mencukupi. Sehingga, harus mengambil dari luar daerah," katanya.
Dengan tingginya potensi itu, Hanung berpendapat sektor peternakan perlu digenjot lagi.
Caranya dengan mendorong warga untuk terjun menekuni dunia peternakan. Masalahnya adalah tidak sedikit warga yang tertarik terkendala permodalan.
Hanung menceritakan, beberapa tahun lalu pemkab pernah memiliki program hibah bantuan ternak.
Banyak yang merasakan manfaatnya. Hanya, program populis ini pada 2018 dihentikan. "Dengan sejumlah alasan," katanya.
Salah satu alasannya adalah administrasi pengadaan hewan ternak. Menurutnya, persoalan ini bisa diurai.
Toh, beberapa pemkab di Jawa Tengah masih mempertahankan program ini. Seperti Pemkab Purworejo. Banyak peternak baru bermunculan karena mendapatkan program ini.
"Pemkab Bantul ke depan mungkin perlu melakukan study tiru di sana. Agar hibah bantuan ternak nanti bisa berjalan lagi tanpa ada masalah," harapnya.
Terkait kelompok peternak yang sudah berjalan, Hanung mendorong organisasi perangkat daerah terkait melakukan pendampingan dan pelatihan.
Apa program pendampingan dan pelatihan yang dibutuhkan peternak? Hanung menyebut cukup banyak.
Yang paling mencolok adalah pendampingan cara membuat komposisi pakan ternak. Sebab, komposisi pakan yang tepat bisa membuat pertumbuhan hewan lebih cepat.
Baca Juga: Profesional, M. Fahri Tinggalkan Dulu Keluarga di Aceh untuk Berbagung Kembali ke PSS Sleman
"Kemudian, para peternak juga perlu dibekali pengetahuan soal bagaimana membuat kandang yang bagus dan bersih," tambahnya.
Jika beberapa sektor ini digenjot, Hanung optimistis produk domestik regional bruto Kabupaten Bantul bakal naik. (*/zam)