BANTUL - Pengelola destinasi wisata Puncak Sosok, Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, mulai melakukan berbagai persiapan untuk menyambut malam pergantian tahun. Sejumlah skema disiapkan, mulai dari penambahan hiburan musik, pengaturan jam operasional, hingga antisipasi lonjakan pengunjung dan sampah.
Ketua Pengelola Puncak Sosok Rudi Haryanto, 39, menjelaskan, perayaan tahun baru di Puncak Sosok akan sedikit berbeda dibanding hari biasa. Perbedaan utama terletak pada jam operasional dan jumlah pengisi acara.
“Kalau hari biasa biasanya tutup jam 23.00, khusus malam tahun baru kami buka sampai sekitar jam 01.00. Untuk hiburan, biasanya satu band, nanti kami siapkan dua band karena acaranya sudah dimulai sejak sore,” ujarnya Minggu (14/12).
Persiapan acara dimulai sejak pukul 16.00, termasuk pengecekan panggung dan tata suara. Musik akan mengalun hingga menjelang pergantian tahun. Selain itu, pengunjung juga diperbolehkan membawa kembang api sendiri.
“Kembang api dari kami ada, tapi kecil, hanya untuk simbolis. Biasanya penonton juga bawa sendiri,” katanya.
Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung, pengelola menyiapkan pembatasan kapasitas. Jika area parkir telah penuh, akses masuk akan ditutup dari jalan utama.
Berdasarkan catatan pengelola, jumlah pengunjung saat malam tahun baru sangat bergantung pada cuaca. Tahun lalu, pengunjung mencapai sekitar 1.500 orang, sementara tahun sebelumnya sempat menyentuh 2.500 orang.
Adapun kapasitas maksimal kawasan Puncak Sosok sebenarnya bisa menampung lebih dari 3.000 pengunjung, dengan daya tampung parkir sekitar 2.000 orang.
Pada hari biasa, Puncak Sosok buka dari pagi hingga malam. Namun khusus malam tahun baru, destinasi ini ditutup sementara sejak pagi untuk persiapan acara, lalu dibuka kembali pukul 16.00 WIB.
Lonjakan pengunjung juga berdampak pada volume sampah. Pengelola menyiapkan langkah antisipasi dengan menambah petugas kebersihan dan tong sampah.
“Petugas kebersihan biasanya dua sampai tiga orang, nanti kami tambah. Tong sampah juga kami keluarkan semua stoknya, termasuk kantong plastik,” katanya.
Pada perayaan tahun baru sebelumnya, sampah yang terkumpul mencapai 15–20 karung besar, dengan berat sekitar 20 kilogram per karung.
Terkait mitigasi bencana, Rudi memastikan kawasan Puncak Sosok relatif aman dari ancaman longsor. “Kemungkinan longsor ada, tapi kecil. Kami juga sudah bangun pagar pengaman baru sekitar 70 meter, serta melakukan penanaman pohon penguat seperti beringin sejak awal,” jelasnya.
Selain itu, pengelola juga membangun pagar pembatas di sejumlah titik tebing serta alur pengaman untuk meningkatkan keselamatan pengunjung.
Baca Juga: UNESCO Belum Terima Surat Pemerintah, soal Wacana Pemasangan Chattra Borobudur
Dari sisi pengamanan, seluruh unsur pengelola akan dikerahkan. Total kru yang terlibat, termasuk kebersihan, keamanan, dan penjagaan jalur masuk, petugas parker mencapai lebih dari 150 orang. “Semua kami kerahkan. Ada juga warga yang membantu penjagaan di pertigaan dan akses masuk,” katanya.
Rudi berharap perayaan malam tahun baru di Puncak Sosok dapat berjalan aman, lancar, dan tertib. Sekaligus menjadi sarana promosi untuk mengenalkan destinasi tersebut kepada masyarakat yang belum pernah berkunjung. Ia juga berharap cuaca saat pergantian tahun mendukung, sehingga jumlah pengunjung yang ke Puncak Sosok tinggi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul Saryadi menyampaikan, pihaknya akan menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Pariwisata RI Nomor SE/5/HK.01.03/MP/2025 terkait penyelenggaraan kegiatan wisata yang aman, nyaman, dan menyenangkan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Ia menjelaskan, imbauan tersebut disampaikan kepada asosiasi pariwisata, pengelola destinasi wisata, serta pelaku usaha pariwisata di Bantul agar memastikan penerapan standar cleanliness, health, safety, and sustainability (CHSS). Selain itu, pengelola destinasi wisata dan pelaku usaha pariwisata juga diminta menerapkan prinsip Sapta Pesona.
“Meliputi aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan memberikan kenangan yang baik bagi wisatawan,” katanya.
Dispar Bantul juga mengimbau agar pengelolaan sampah dilakukan secara optimal di masing-masing usaha jasa wisata, disertai langkah mitigasi risiko bencana.
“Pelaku usaha diminta mencantumkan ketentuan yang jelas, termasuk tarif atau harga produk dan layanan jasa pariwisata, guna memberikan kepastian bagi wisatawan,” tutupnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita