Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengembangan Hutan Mangrove di Bantul Terkendala Abrasi, Kiriman Sampah, hingga Perubahan Alur Muara

Cintia Yuliani • Senin, 8 Desember 2025 | 02:00 WIB

 

Sejumlah peserta dari komunitas peduli lingkungan, Gen-Z, dan pemuda-pemudi Baros menanam bibit mangrove bertajuk
Sejumlah peserta dari komunitas peduli lingkungan, Gen-Z, dan pemuda-pemudi Baros menanam bibit mangrove bertajuk
 

BANTUL - Upaya pengembangan hutan mangrove di Bantul masih menghadapi tantangan besar. Perubahan alur muara sungai, kiriman sampah, hingga abrasi pantai menjadi hambatan utama.

Kelompok Tani Hutan (KTH) Merjosari, Srigading, Sanden Sancoko mengungkapkan, sampah di lokasi mangrove sebagian besar merupakan kiriman dari hulu Sungai Winongo dan Sungai Opak. Seluruh sampah yang dibuang ke sungai-sungai tersebut, akhirnya bermuara di kawasan mangrove. “Kami cuma bisa dibuat pagar jika ada kegiatan penanaman,” bebernya saat dihubungi Minggu (7/12).

 Baca Juga: 300 Wisatawan Urungkan Berlibur ke Goa Pindul, Buntut Dispar DIY Umumkan Destinasi Wisata Rawan Bencana

Pembersihan sampah juga dilakukan secara selektif. Untuk mangrove yang sudah besar, pembersihan jarang dilakukan. Namun untuk tanaman mangrove baru, sampah harus dibersihkan agar bibit bisa bertahan hidup.

Upaya perbaikan tanaman dilakukan terus-menerus. Jika di satu titik mangrove belum bisa hidup dengan baik, penanaman akan terus diulang. “Kalau kita berhenti menanam, tidak bisa berkembang kalau tidak kita tanami,” katanya.

 Baca Juga: Prediksi Real Madrid vs Celta Vigo La Liga Senin 8 Desember Kick Off 03.00 WIB, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Saat ini, kelompok yang mengelola kawasan mangrove di Laguna Tengklik didominasi anak-anak muda. Sebagian besar relawan aktif berjumlah sekitar 15-20 orang. Mereka secara rutin melakukan penanaman satu hingga tiga kali dalam sebulan.

Luasan kawasan potensial yang bisa ditanami mangrove di dua kapanewon yang ada di Bantul mencapai sekitar 20,5 hektare. Dari luasan tersebut, baru sekitar 40 persen yang sudah ditanami.

 Baca Juga: Prediksi Borussia Dortmund vs Hoffenheim Bundesliga Minggu 7 Desember Kick Off 23.30 WIB, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Menurutnya, keberadaan mangrove mulai menunjukkan dampak positif terhadap lingkungan sekitar. Lahan pertanian di wilayah yang berdekatan dengan hutan mangrove, bisa panen tiga kali dalam setahun. Padahal biasanya hanya dua kali. “Dari sektor perikanan, kawasan mangrove menjadi habitat kepiting dan udang,” tuturnya.

 

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan, penanaman mangrove berperan penting dalam menjaga lingkungan pesisir. Menurutnya, mangrove mampu meningkatkan efisiensi perlindungan dari ancaman abrasi dan intrusi air laut. “Bantul ini daerah pantai dengan karakter ombak besar, sehingga potensi intrusi dan abrasi sangat tinggi,” tuturnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi Nugroho menjelaskan, hutan mangrove memiliki banyak manfaat, mulai dari melindungi pantai dari abrasi, meningkatkan keanekaragaman hayati, menyerap karbon, menopang ekonomi masyarakat pesisir, hingga menjadi kawasan edukasi dan penelitian.

 

Kawasan hutan mangrove Bantul sendiri berada di Baros, tepatnya di delta Sungai Opak. Memiliki status lahan Sultanaat Grond dengan luasan kurang lebih 25 hektare. 

Saat ini, kata dia, kawasan tersebut masih membutuhkan optimalisasi penanaman dan perawatan. Agar perkembangan dan keberlanjutannya bisa terjaga secara maksimal.

 

Kepedulian itu juga datang dari Amartha.org, organisasi nirlaba yang didirikan oleh Amartha Financial Group untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di desa melalui program berbasis pendidikan, sosial dan lingkungan.

Chairman amartha.org, Aria Widyanto, menyampaikan selama lebih dari 15 tahun, Amartha berkomitmen pada pertumbuhan ekonomi yang mendorong kelestarian lingkungan.

“Kami menerapkan praktik bisnis berkelanjutan, termasuk membantu masyarakat pesisir meningkatkan resiliensi mereka terhadap risiko perubahan iklim. Salah satu intervensi yang kami lakukan adalah inisiatif menanam 5.000 pohon bakau, dengan melibatkan komunitas dan masyarakat setempat seperti IKAMaT dan Kelompok Pemuda-Pemudi Baros,” ungkapnya.

(cin/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pengembangan #mangrove #Bantul #Sampah #Laguna Tengklik #muara sungai #hutan mangrove