BANTUL - Setelah setahun lebih terjun ke dunia politik praktis, Theodora Ratna Wodiastuti banyak menemukan persoalan di tengah masyarakat. Terutama konstituennya. Butuh program dan langkah konkret untuk menuntaskan berbagai persoalan itu.
"Yang paling mencolok adalah ketersediaan lapangan pekerjaan," jelas Theodora, sapaan akrab Theodora Ratna Widiastuti, di ruang kerjanya pekan lalu.
Politikus PDI Perjuangan ini kali pertama duduk sebagai wakil rakyat Bantul pada periode 2024-2029. Theodora berangkat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bantul I. Yang meliputi Kapanewon Bantul dan Kapanewon Sewon.
Di dua kapanewon itu, Theodora banyak menjumpai warga yang menganggur. Mereka kesulitan mencari lapangan pekerjaan.
Menurutnya, tingginya angka pengangguran bisa membawa dampak serius. "Mereka akhirnya lari ke hal-hal negatif. Seperti minuman keras dan obat-obatan terlarang," ucapnya.
Fenomena ini, Theodora menegaskan, tidak boleh dibiarkan. Harus ada upaya konkret untuk mengurainya. Sebab, mayoritas pengangguran di Kapanewon Bantul dan Kapanewon Sewon masih usia produktif.
Seharusnya, kataTheodora, pemkab melalui berbagai programnya hadir di tengah masyarakat. Namun, pemangkasan dana transfer ke daerah sebesar Rp 156 miliar menyebabkan pemkab melakukan efisiensi besar-besaran. Anggaran untuk membiayai program-program pemberdayaan turut terdampak.
Baca Juga: Menit Main Minim, Irvan Mofu Beberapa Kali Selamatkan PSS Sleman dari Kekalahan
Kendati begitu, Theodora memastikan tekadnya untuk menyediakan lapangan pekerjaan tidak akan surut. Berbekal jejaringnya, Theodora sedang berupaya merangkul beberapa investor untuk membangun peternakan ayam. Targetnya, keberadaan peternakan ayam itu kelak bisa merekrut konstituennya sebagai pekerja.
"Calon lokasi peternakan ayamnya sudah ada. Sekarang masih kami matangkan," ujarnya.
Selain peternakan ayam, ibu tiga anak ini juga sedang merancang budidaya ikan. Calon lokasinya berada di Kapanewon Sewon. Yang menarik, Theodora tidak hanya merencanakan bagaimana budidaya itu bisa berdiri. Lebih dari itu, Theodora juga memikirkan bagaimana budidaya ikan itu bisa berjalan kontinyu dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Menurutnya, penyebab utama budidaya ikan mandeg di tengah jalan adalah ketersediaan pakan. Banyak pembudidaya ikan tidak berdaya dengan tingginya harga pakan. Karena itu, Theodora menggandeng akademisi untuk mempersiapkan solusinya.
Baca Juga: Ansyari Lubis Angkat Bicara soal Pemain PSS Kesulitan Cetak Gol di Beberapa Laga Terakhir
"Kami merancang bagaimana bisa membuat pakan sendiri dengan biaya murah," katanya.
Persoalan lain yang menjadi perhatian serius Theodora adalah pinjaman online (pinjol). Lulusan Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Jakarta ini melihat banyak konstituennya yang terjerat pinjol.
"Seperti yang kita ketahui, banyak orang yang terjerat pinjol mengakhiri hidupnya. Yang lebih banyak lagi, mereka tidak punya apa-apa lagi," ungkapnya. (*/zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita