BANTUL - Lesunya perekonomian nasional belakangan ini turut berdampak pada geliat ekonomi di Kapanewon Sewon dan Kapanewon Bantul. Tidak sedikit warga yang bekerja di sektor informal mengeluhkan minimnya transaksi penjualan.
Itulah di antara sedikit persoalan di daerah pemilihan (dapil) Wakil Ketua DPRD Bantul Agung Laksmono. Yakni, Dapil Bantul I. Yang meliputi Kapanewon Sewon dan Kapanewon Bantul.
"Ketika reses, sambang warga, atau berbagai kegiatan dengan konstituen, lesunya perekonomian yang sering dikeluhkan," jelas Agung di ruang kerjanya pekan lalu.
Agung menyadari mengurai lambatnya laju perekonomian bukan perkara gampang. Itu erat dengan kondisi perekonomian nasional dan global. Belakangan, situasi perekonomian global berjalan lambat. Itu, antara lain, ditandai dengan pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika. Pengambilan kebijakan itu sebagai stimulus.
Kendati begitu, politikus PKS ini tak berpangku tangan. Sebagai wakil rakyat, Agung memperjuangkan berbagai program pemberdayaan di APBD. Agar program-program itu bisa dirasakan oleh masyarakat. Terutama konstituennya.
"Tentunya dengan tetap mengacu pada RPJMD (rencana pembangunan jangka menengah daerah)," ucapnya.
Ya, ada beberapa program pembangunan prioritas dalam RPJMD 2025-2029. Salah satunya adalah penanggangan kemiskinan ekstrem. Di antara isu strategis dalam program ini adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.
Agung berharap berbagai program pemberdayaan itu bisa menambah keterampilan masyarakat. Dengan begitu, peluang mereka untuk memperkuat atau menambah bisnis baru kian terbuka.
Baca Juga: Liga 3 Nusantara dengan Format Sentralisasi, Ini Grup dan Lawan Persiba Bantul
Problem lain yang tak kalah akut adalah sampah. Menurutnya, sejak pemprov membatasi fungsi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Piyungan, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, dan Jogja kelabakan. Tiga pemda ini akhirnya berupaya menangani sampah secara mandiri.
Kendati begitu, upaya ini belum berjalan maksimal. Itu terlihat dengan banyaknya tumpukan sampah di beberapa titik di sepanjang ring road selatan yang masuk wilayah Kapanewon Sewon. "Karung-karung sampah dengan beragam warna ditumpuk di situ," tuturnya.
Banyaknya tumpukan sampah itu, politikus yang tinggal di Kapanewon Banguntapan ini berpendapat karena sejumlah faktor. Di antaranya adalah jumlah penduduk. Kapanewon Sewon termasuk kapanewon gemuk. Berdasar data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantul, jumlah penduduk Kapanewon Sewon pada akhir 2024 mencapai 102.256 jiwa. Itu belum termasuk jumlah penduduk pendatang yang bermukim. "Kapanewon Sewon juga berbatasan dengan Kota Jogja," katanya.
Melihat kondisi itu, Agung meminta organisasi perangkat daerah terkait memberikan perhatian khusus. Satpol PP, misalnya, giat menggencarkan operasi tangkap tangan. Dinas lingkungan hidup mengoptimalkan berbagai unit pengelolaan sampahnya. "Pengelolaan sampah juga menjadi perhatian serius bupati," ingatnya.
Dalam kesempatan itu, Agung juga menyinggung perihal perizinan. Menurutnya, investasi merupakan salah satu instrumen pendorong roda perekonomian. Kian besar nilai investasi bakal berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan. Menyusul banyaknya warga yang terserap menjadi tenaga kerja.
Karena itu, Agung mendorong Kabupaten Bantul 'ramah' investasi. Salah satu caranya dengan mempermudah layanan perizinan. "Proses pengajuan perizinan jangan sampai bertele-tele atau lama," pesannya. (*/zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita