BANTUL - Curah hujan yang tinggi di wilayah Bantul membuat destinasi wisata sempat tutup. Misalnya Potrobayan River Camp, Pundong yang terdampak banjir luapan air sungai.
“Sempat tutup sehari atau dua hari,” ujar Subkoordinator Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Markus Purnomo Adi saat dihubungi lewat telepon Rabu (19/11).
Selain itu, kawasan Mangrove Baros juga mengalami kenaikan permukaan air meski tidak sampai ditutup. Namun, pengunjung tidak bisa menikmati area savana yang biasanya menjadi daya tarik utama.
Markus menjelaskan, destinasi wisata yang berada di sepanjang bantaran sungai menjadi area yang paling rawan terdampak cuaca ekstrem. Padahal, di Bantul sendiri terdapat beragam objek wisata di sepanjang pinggir sungai. “Di Piyungan ada Pasar Kebon Pring, Gerbang Banyulangit. Pleret ada Pantai Pelangi, di Parangtritis sampai ke Laguna Pandansimo, Laguna Progo,” beber Markus.
Selain wilayah pesisir dan bantaran sungai, kawasan Mangunan juga masuk kategori rawan karena kondisi geografisnya yang banyak dikelilingi pepohonan dan tebing. Menurutnya, pengelola perlu rutin memeriksa kondisi pepohonan. Terutama yang sudah tua atau lapuk.
Markus mengimbau pengelola wisata, termasuk Pokdarwis, untuk selalu aktif berkoordinasi mengenai kondisi lapangan. Terutama dengan pengelola kawasan sungai di hulu. “Artinya kondisi tempat wisata seperti apa, kemudian bisa untuk persiapan sekiranya hujan deras di daerah hulu,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengecekan jalur evakuasi agar pengunjung tidak kebingungan jika kondisi darurat terjadi. Selain itu, kerja sama dengan FPRB tingkat kalurahan diperlukan. Terutama terkait penanganan pohon rawan tumbang.
“Pokdarwis memang harus aktif mengecek kondisi di sekitarnya. Kalau terkait pohon, bisa kerja sama dengan FPRB,” kata Markus. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita