BANTUL - Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat terjadi sebanyak 112 longsor dan erosi di Bantul dari Januari sampai Oktober 2025.
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmansyah mengatakan, wilayah yang sering mengalami longsor berada di Kapanewon Imogiri, Dlingo, dan Pundong.
"Untuk waktunya memasuki bulan-bulan penghujan di bulan September sampai Maret biasanya rawan longsor," jelasnya Sabtu (15/11).
Baca Juga: MUA Asal Lombok Diduga Pria, Tanpa Disadari Rugikan Banyak Orang
Lanjutnya, tanah longsor memang bencana alam yang paling banyak terjadi di Bantul. Bencana alam lainnya seperti pohon tumbang terjadi sebanyak 74 titik kejadian.
"Kalau lokasi pohon tumbang merata di seluruh kapanewon yang ada di Bantul terutama memiliki banyak pepohonan," katanya.
Baca Juga: Petani di Kalurahan Parangtritis Lakukan Sistem Tanam Serentak untuk Hindari Hama dan Penyakit yang Menyebar
Sedangkan banjir atau genangan air hanya terjadi empat kali di tahun 2025 ini. "Banjir biasanya di daerah yang dialiri sungai terutama daerah Imogiri," tuturnya.
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, longsor yang sering terjadi di Bantul diakibatkan banyaknya perbukitan. Ditambah dengan intensitas hujan deras dan durasi yang cukup lama.
"Juga mungkin adanya penebangan pohon untuk kepentingan yang lainnya," katanya.
Baca Juga: Terpilih secara Aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sleman, Banudoyo Manggolo: Saatnya yang Muda Berkarya
Ia mengimbau masyarakat di Bantul untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan menghadapi potensi bencana. Masyarakat diminta mengenali wilayah rawan longsor, terlebih ketika cuaca mulai mendung, hujan deras, atau disertai angin kencang, serta segera menjauh dari area berisiko.
"Bila terjadi bencana segera selamatkan diri dan keluarga dahulu kemudian melapor ke relawan yang ada di pos bansor di masing-masing kalurahan ataupun ke BPBD," tutupnya. (cin)