Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani di Kalurahan Parangtritis Lakukan Sistem Tanam Serentak untuk Hindari Hama dan Penyakit yang Menyebar

Cintia Yuliani • Minggu, 16 November 2025 | 00:39 WIB
TELATEN: Warjono, petani yang ada di Padukuhan Kretek, Parangtritis, Kretek sedang memetik cabai di lahan pertaniannya Jumat (14/11).
TELATEN: Warjono, petani yang ada di Padukuhan Kretek, Parangtritis, Kretek sedang memetik cabai di lahan pertaniannya Jumat (14/11).

BANTUL - Penanaman tanaman serentak dengan komoditas yang sama menjadi strategi petani di Kalurahan Parangtritis. Hal ini dilakukan untuk memutus sebaran hama dan penyakit yang berpotensi merugikan.

 

Ulu-Ulu Kalurahan Parangtritis Elyas Suprapta menjelaskan, jika satu petani menanam cabai, petani lainnya akan sama. Jika musim berikutnya ingin beralih ke tanaman lain, seluruh petani juga akan berganti bersama-sama.

 Baca Juga: MUA Asal Lombok Diduga Pria, Tanpa Disadari Rugikan Banyak Orang

“Masa tanamnya bawang merah ya semuanya menanam bawang merah,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (14/11). 

 

Peraturan penanaman serentak memang sengaja diatur di Kalurahan Parangtritis sejak 2019. Sistem ini juga baru diberlakukan di lahan pertanian yang ada di Kalurahan Parangtritis. 

 

“Kita punya luasan lahan sawah sekitar 156 hektare dan lahan pasir 15 hektare dimanfaatkan oleh 600 petani. Semuanya menggunakan sistem tanam serentak,” katanya. 

 Baca Juga: BPJS Kesehatan Terapkan Skema Rujukan Baru: Lebih Mudah atau Makin Ribet?

Manfaat lain dari pola tanam serentak adalah mampu memutus siklus hama dan penyakit. Jika semua petani menanam komoditas yang sama pada waktu yang bersamaan, maka selama musim tanam tidak ada lahan yang dibiarkan kosong. 

 

Begitu masa tanam selesai, seluruh lahan juga akan kosong secara bersamaan. Pola ini membuat hama dan penyakit tidak memiliki ruang untuk berkembang kembali.

 

“Otomatis hama penyakit yang sudah menyerang pada musim tanam sebelumnya akan terputus,” katanya.  

 

Sebaliknya, jika pola tanam tidak dilakukan secara serentak, potensi penyebaran penyakit justru semakin besar. Kondisinya menjadi tidak seragam. Misalnya saat ada yang baru menanam dan ada lahan lain masuk masa panen. Situasi seperti ini membuat siklus penyakit tidak pernah benar-benar terputus. Sehingga akan terus muncul sepanjang satu musim bahkan hingga satu tahun penuh.

 Baca Juga: Prediksi Kazakhstan vs Belgia Kualifikasi Piala Dunia Sabtu 15 November Kick Off 21.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

“Keuntungan lainnya menggunakan sistem tanam serentak dapat menarik pedagang dari luar daerah untuk masuk,” tuturnya. 

 

Seperti Brebes, Lamongan, Bandung, hingga Nganjuk. Kondisi ini membuat daya tawar produk bawang merah meningkat. Mengingat komoditas ini menjadi salah satu unggulan di Kalurahan Parangtritis. “Bahkan ada yang ngekos, ada yang nginap di hotel beberapa hari untuk mendapatkan barang dagangan di sini,” jelasnya.

 

Sementara itu, petani Padukuhan Kretek, Parangtritis, Kretek Warjono mengatakan, sistem tanam serentak mengharuskan seluruh petani kompak menyesuaikan jenis tanaman. Jika masuk musim tanam bawang merah, maka tanaman cabai yang masih ada harus dicabut.

"Dicabut biar nggak ada wereng atau hama lainnya, harus disamaratakan," kata petani berusia 61 tahun itu. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#parangtritis #hama #masa tanam #penyakit #Tanam serentak #kretek #Kalurahan Parangtritis #Petani #sistem #bawang merah