BANTUL - Sejumlah petani di Padukuhan Wonoroto, Kalurahan Gading Sari, Kapanewon Sanden, mengeluhkan lahan pertanian mereka yang terendam banjir selama sebulan terakhir.
Genangan air yang tak kunjung surut membuat tanaman cabai membusuk dan mati, sehingga hasil panen menurun drastis dan harga jual di pasaran ikut anjlok.
Salah satu petani cabai, Raharjo, 56, mengatakan kondisi tanah yang terlalu lembap menyebabkan akar cabai rusak dan tidak bisa diselamatkan.
Akibatnya, seluruh tanaman terpaksa dicabut meski sebelumnya masih dalam kondisi subur.
"Akhirnya dicabut. Kalau enggak kebanjiran, mestinya masih bisa tumbuh lagi,” tuturnya saat ditemui di lahan pertaniannya Kamis (13/11/2025).
Padahal, tanaman cabai tersebut sudah ditanam sejak Juni lalu dan telah menghasilkan panen hingga 40 kali.
Dari lahan seluas 840 meter persegi, biasanya Raharjo mampu menghasilkan sekitar 180 kuintal cabai setiap musim. "Sekarang bisa kurang dari 180 kuintal," katanya.
Ia menuturkan, jika cuaca mendukung dan perawatan dilakukan secara baik, tanaman cabai bisa bertahan hingga lima bulan. Namun kondisi alam sulit diprediksi.
“Sebenarnya masih bagus cabainya, tapi ya alam enggak bisa diprediksi,” tandasnya.
Selain menyebabkan tanaman mati, banjir juga membuat harga jual cabai merosot. Dari harga semula di atas Rp 30 ribu per kilogram, kini hanya laku Rp 20 ribu.
Meski demikian, Raharjo bersyukur masih bisa menjual hasil panennya.
“Tapi harganya turun, ya modalnya doang yang kembali, bisa lebih sedikit. Alhamdulillah enggak rugi, masih bisa panen lagi,” ujarnya.
Pun banjir juga menghambat proses pemupukan karena lahan tergenang air. Untuk sementara, ia berencana menanam padi setelah musim kemarau tiba.
Sebab kondisi cuaca yang tidak menentu membuat proses tanam bergantung pada intensitas hujan.
Banjir di wilayah Wonoroto sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun, genangan air selalu merendam lahan pertanian seluas sekitar tiga hektare.
“Ini belum seberapa, kalau deras bisa sampai ke jalan. Tiap tahun pasti banjir,” bebernya.
Lahan yang digarap merupakan warisan dari orang tuanya. Ia mengeluhkan belum ada perhatian dari pemerintah terhadap kondisi lahan yang kerap terdampak banjir.
Upaya pengajuan bantuan melalui dukuh dan kalurahan juga belum mendapat tanggapan."Kita ngga ikut kelompok tani juga," sambungnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo mengatakan, petani di wilayah yang belum memiliki jaringan irigasi dan belum tergabung dalam kelompok tani diimbau segera bergabung.
Hal ini penting agar pemerintah dapat menindaklanjuti perbaikan jaringan irigasi secara optimal.
"Kalau ada masalah irigasi, silakan komunikasi dengan penyuluh dan buat proposal, agar kami bisa menindaklanjutinya," jelasnya.
Joko menegaskan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kesejahteraan petani melalui berbagai program, termasuk perbaikan jaringan irigasi.
Tujuan utama DKPP Bantul adalah mewujudkan swasembada pangan. Dengan tercapainya hal tersebut, ia berharap kesejahteraan para petani di Bantul dapat meningkat.
"Sekarang minat bertani juga tinggi. Pemerintah sudah memberikan fasilitas dari hulu sampai hilir,” terangnya.
Ia menyebut, dukungan pemerintah juga mencakup pembangunan irigasi dan penetapan harga dasar komoditas.
“Harga dasar gabah sudah Rp 6.500 per kilogram dan jagung Rp 5.500. Ke depan kami akan menggenjot pembangunan jaringan irigasi agar sektor pertanian di Bantul makin kuat,” ungkapnya.
Mulai 2026, pemerintah pusat juga akan membangun jaringan irigasi dari tingkat primer, sekunder, hingga tersier.
“Harapannya, dari hulu sampai hilir bisa teraliri dengan baik. Jadi saat musim hujan tidak banjir, dan saat kemarau air bisa sampai ke lahan-lahan pertanian,” harapnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita