BANTUL - Kondisi geografis pantai selatan (pansela) Bantul yang berdekatan dengan aliran Sungai Progo membuat proses pembuatan garam di wilayah tersebut memerlukan waktu lebih lama dibanding daerah lain.
Kendati demikian, para petani tetap mempertahankan cara produksi alami tanpa bahan kimia tambahan.
Petani garam Purnama, 47, yang memiliki lahan pertanian garam di Pantai Tanggul Tirto mengatakan, air laut yang digunakan untuk bahan dasar garam memiliki kadar lebih rendah karena bercampur dengan air sungai.
“Ini membuat garam krosok prosesnya agak lama,” ujarnya saat ditemui di lahan garamnya Rabu (13/11/2025).
Selain itu, kadar garam di kawasan Bantul dinilai masih kalah dibanding Surabaya dan Lamongan.
“Di sana bikin bak kasih air sepuluh hari sudah jadi pengkristalan, kalau di sini butuh dua bulan. Karena di sini dekat sungai, kadar garamnya lebih rendah,” terangnya.
Tantangan lain dalam produksi garam di wilayah pansela Bantul adalah faktor cuaca. Suhu udara yang tidak menentu, kadang panas terik, kadang sejuk bahkan berawan membuat proses pengeringan tidak stabil.
Untuk menjaga suhu dan kebersihan, ia menutup tanel dengan atap plastik UV agar proses pengkristalan tidak terganggu cuaca.
“Kalau musim kemarau itu panen raya, tapi daun-daun sering jatuh ke kolam. Untungnya sekarang sudah pakai plastik, jadi lebih aman,” jelasnya.
Untuk pasokan air laut, ia membuat sumur bor di tepi pantai dan menyedot air menggunakan pompa.
“Airnya langsung dari laut, tapi prosesnya tetap lama karena kadar garamnya lebih rendah,” sambungnya.
Meski proses pembuatannya memakan waktu lama, Purnama menegaskan bahwa ia tidak menggunakan bahan kimia tambahan sedikit pun. Saat ini, ia baru memiliki dua tanel pengkristalan.
Dari satu tanel, ia bisa menghasilkan sekitar dua kuintal garam, sehingga total produksinya mencapai empat kuintal. Proses panen dilakukan bertahap, disesuaikan dengan tingkat pengeringan garam.
“Satu kuintal bisa sampai tiga kali proses pengeringan. Setelah kering semua baru siap diisi lagi untuk pengkristalan,” terangnya.
Untuk sementara, hasil produksi garamnya dijual ke pedagang lokal, warung, dan toko pakan ternak dengan harga Rp 3.000 per kilogram untuk kualitas terbaik, dan Rp 2.500 untuk kualitas di bawahnya.
Adapun, di lokasi produksinya terdapat tiga jenis garam. Pertama, garam krosok putih dengan kristal besar dan kasar.
Garam agak lembut namun rasanya sama. Dan garam lembut dengan butiran kecil.
“Yang paling kasar itu yang paling bagus, kristalnya besar-besar,” bebernya.
Menekuni produksi garam sejak 2023, Purnama sebelumnya merupakan petani lahan marjinal.
Kini, beberapa warga mulai mengikuti jejaknya. Ketertarikan Purnama bermula dari perkenalannya dengan seorang pengusaha garam asal Surabaya yang juga pemilik usaha travel.
Dari situ, ia belajar langsung proses produksi dengan bimbingan teknisi dari Kebumen dan Surabaya.
Meski hasilnya belum besar, usaha tersebut cukup membantu kebutuhan rumah tangga.
“Kalau dikalkulasi, empat kuintal dikali Rp 2.000 ya lumayan menopang dapur, tapi prosesnya kan dua bulan,” tambahnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita