Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani Lahan Pasir Beralih ke Sistem Pasar Lelang, Disebut Lebih Menguntungkan, Harga Bisa Selisih Rp 5 Ribu per Kg

Cintia Yuliani • Rabu, 12 November 2025 | 03:35 WIB

 

 

lahan pertanian pasir di wilayah selatan Bantul
lahan pertanian pasir di wilayah selatan Bantul

BANTUL - Kelompok Tani Manunggal yang berada di Padukuhan Ngepet, Srigading, Sanden yang menggarap lahan pertanian di kawasan lahan pasir mulai menerapkan sistem pasar lelang. Model pemasaran hasil panen ini dinilai lebih menguntungkan. Jika dibandingkan menjual langsung ke pengecer atau pengumpul.

“Pasar lelang itu bisa menekan harga, jadi untuk bisa mematahkan mata rantai pasar,” jelas Ketua Kelompok Tani Manunggal Subandi, 70, saat dihubungi lewat telepon Selasa (11/11).

Pasar lelang mulai dijalankan sejak 2025. Selama ini, petani di lahan pasir harus melewati pedagang perantara sebelum hasil panennya masuk ke pasar induk. Kondisi tersebut membuat harga sering tidak stabil dan rawan dipermainkan tengkulak.

“Petani di lahan pasir masuknya ke pasar besar. Kita sudah mengadakan pasar lelang, kadi transaksi langsung dengan pasar induk. Jualnya ke Semarang, Kramat Jati, Palembang, Sulawesi juga ada,” ujarnya.

Dengan pasar lelang, posisi tawar petani meningkat. Harga dapat diputuskan secara kolektif. Tidak berdasarkan permainan pedagang. “Tujuannya, petani tidak harus ke pasar. Ke pasar lelang saja sudah cukup,” lanjutnya.

Pelaksanaan lelang dilakukan langsung di lahan sawah salah satu anggota kelompok. Komoditas seperti bawang merah biasanya dikumpulkan terlebih dahulu. Sedangkan cabai, semua petani di kawasan pantai selatan (pansela) langsung memasukkan hasil panennya ke pasar lelang. “Yang penting transaksi dilakukan bersama, tidak sendiri-sendiri,” katanya.

Dengan sistem ini, selisih keuntungan bisa mencapai Rp 5 ribu per kilogram. “Itu kalau dikalikan per ton jelas terasa,” sambungnya.

Menurutnya, hampir seluruh kelompok tani di wilayah pantai selatan kini menerapkan pola serupa. Di Srigading, misalnya, sistem lelang dilakukan oleh kelompok tani per kalurahan. Jumlah anggota bervariasi mulai 20 sampai 40 orang dalam satu kelompok. “Sekarang banyak yang ikut. Karena jelas lebih untung,” tambahnya.

Ia berharap, penerapan pasar lelang terus diperkuat. Termasuk dukungan dalam hal transportasi distribusi agar pengiriman ke pasar induk dapat berjalan lebih efektif. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Petani Lahan Pasir #sanden #Srigading #Lahan Pasir #Kelompok Tani Manunggal #Padukuhan Ngepet #pasar lelang #tengkulak #lahan pertanian #lelang