Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kesadaran Keselamatan Kerja Meningkat, Pembatik Giriloyo, Imogiri Beralih ke Kompor Listrik dan Gunakan APD

Cintia Yuliani • Selasa, 11 November 2025 | 01:25 WIB

 

MENCANTING: Batik Salah satu warisan budaya tak benda di Wukirsari
MENCANTING: Batik Salah satu warisan budaya tak benda di Wukirsari

BANTUL - Kesadaran pembatik di Sentra Batik Giriloyo, Imogiri, terhadap keselamatan kerja semakin meningkat. Para perajin mulai menggunakan alat pelindung diri hingaa teknologi pendukung agar proses produksi batik lebih ramah kesehatan serta lingkungan.

Sebagian besar perajin batik sudah beralih menggunakan kompor listrik dalam proses pelilinan. Penggunaan kompor tersebut menggantikan kompor minyak yang memproduksi asap dan bau menyengat.

“Lebih hemat dan tidak berasap, jadi pembatik bisa bekerja lebih nyaman,” jelas Tim Pengelola Desa Batik Giriloyo Tiyastiti Suraya Senin (10/11).

Tak hanya mengganti sumber panas, para pembatik juga mulai terbiasa menggunakan alat pelindung diri (APD). Seperti masker, sarung tangan, serta apron tahan air terutama ketika melewati proses pewarnaan. Kebiasaan ini terus digencarkan melalui pendampingan dan edukasi.

“Kalau dulu mewarnai itu langsung pakai tangan, sekarang kami dorong memakai perlindungan. Kami ingin ini jadi budaya kerja, bukan sekadar imbauan,” katanya.

Tiyastiti menyebut, penerapan keselamatan kerja ini bukan hal baru. Komunitas Batik Giriloyo sejak awal memang memberi perhatian pada aspek kesehatan perajin dan dampak lingkungan dari limbah pewarnaan.

Kesadaran ini tumbuh sejak 2006. Saat pembatik mulai mengerjakan semua tahapan batik secara mandiri, tidak hanya proses pelilinan.

Di tahun itu, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga turut dibangun. Jadi limbah pewarnaan yang dibuang ke lingkungan sudah melalui proses pemurnian. “Sekarang setiap unit usaha batik juga punya fasilitas IPAL sendiri,” katanya.

Dukungan pemerintah daerah juga memperkuat sistem pengolahan limbah yang ada. Termasuk pembaruan reaktor untuk meningkatkan kualitas hasil pengolahan air.

Tidak hanya bahan kimia, aspek kesehatan fisik pembatik turut menjadi perhatian. Banyak perajin yang bekerja dalam posisi duduk berjam-jam sehingga berisiko mengalami nyeri punggung dan carpal syndrome.

Atas dasar itu, komunitas bekerja sama dengan perguruan tinggi kesehatan untuk merancang kursi duduk ergonomis serta mengembangkan gerakan senam batik. “Senam ini membantu pembatik agar setiap satu jam berdiri dan menggerakkan tubuh. Supaya tidak pegal dan mencegah gangguan otot,” ujarnya. (cin/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#keselamatan kerja #Kompor listrik #Perajin #pembatik #Batik #Sentra Batik Giriloyo #alat pelindung diri #Imogiri