Hal ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang menekankan kembali peran pertanian sebagai penyangga utama perekonomian nasional.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan, saat ini Pemkab Bantul tengah mengembangkan komoditas perkebunan seperti kakao, kelapa kopyor, kelapa genjah, mete hingga alpukat di sejumlah wilayah yakni Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, dan Pundong. Pengembangan dilakukan dengan memanfaatkan lahan pekarangan.
“Kita sudah punya deal (persetujuan, Red) sama kementerian pertanian akan membuka lahan untuk komuditi perkebunan besar besaran," jelasnya saat ditemui di Hotel Ros In dalam acara evaluasi Progres Pembangunan Pertanian Senin (10/11).
Pengembangan itu dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang ada.
Pihaknya tidak ingin ada lahan di Bantul yang dibiarkan menganggur, sehingga seluruh potensi tanah yang tersedia akan digarap agar dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Untuk memastikan pemanfaatan lahan berjalan efektif, Pemkab Bantul menggandeng akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Nantinya, dilakukan pengukuran tingkat keasaman tanah (pH) dan riset kecocokan komoditas sesuai karakteristik lahan di masing-masing wilayah.
“Jadi kampus kita libatkan agar langkah yang dilakukan efektif dan dilandasi ilmu,” jelasnya.
Halim juga menegaskan pengembangan perkebunan di wilayah yang rawan bencana seperti Imogiri justru dapat memberi manfaat tambahan berupa penguatan struktur tanah dan mengurangi risiko longsor.
Menurut dia, Indonesia sejak dulu dikenal sebagai negara agraris yang dianugerahi kesuburan tanah dan iklim yang mendukung pertanian.
Karena itu, meninggalkan sektor pertanian dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap potensi alam yang diberikan.
“Sehingga berangkat dari kesadaran itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah memiliki target pertumbuhan sektor pertanian yang sangat besar,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, Pemkab Bantul juga melakukan intervensi di sisi hulu untuk menekan biaya produksi petani.
Mulai dari bantuan alat mesin pertanian (alsintan) seperti combine harvester, multifactor, traktor, benih, hingga pupuk bersubsidi.
Termasuk optimalisasi jaringan irigasi dan penyediaan listrik untuk pompa air guna mengurangi biaya operasional.
“Supaya biaya pertanian turun, pendapatan bersih petani menjadi lebih besar, kesejahteraannya meningkat,” jelasnya.
Sebab, pada sisi hilir atau pasar, pemerintah tidak dapat mengendalikan harga secara langsung.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo menambahkan, Salah satu komoditas yang tengah dikembangkan adalah kelapa genjah.
“Kemarin kita menerima bantuan kelapa genjah 13.500 bibit untuk 123 hektare. Kemarin juga sudah kita launching hari Rabu," katanya.
Lanjutnya, tahun 2026 Pemkab Bantul juga akan mengajukan permohonan untuk pengembangan komoditas kakao, alpukat, dan mete, sebagai kelanjutan penguatan sektor perkebunan. (cin)
Editor : Bahana.