Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Festival Wayang di AKN Yogyakarta Dorong Regenerasi Seniman melalui Wayang Milenium Wae

Cintia Yuliani • Jumat, 7 November 2025 | 05:00 WIB

 

 

Pameran sayang Milenium Wae karya Ki Mujar Sangkerta.
Pameran sayang Milenium Wae karya Ki Mujar Sangkerta.

BANTUL - Upaya menjaga keberlangsungan seni wayang di tengah perkembangan zaman terus dilakukan melalui pendekatan kreatif lintas generasi.

Hal ini tercermin dalam pelaksanaan Festival Wayang 2025 di Akademi Komunitas Negeri (AKN) Seni dan Budaya Jogjakarta, sekaligus memperingati Hari Wayang Sedunia.

Festival yang digelar 7 sampai 9 November 2025 ini tidak hanya menampilkan pertunjukan wayang tradisional.

Tetapi juga pameran seni instalasi kontemporer Wayang Milenium Wae karya seniman Ki Mujar Sangkerta.

Karya itu menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan inovasi, sekaligus ajang belajar bersama bagi seniman muda dan mahasiswa seni.

Pameran instalasi berlangsung di area outdoor halaman utara dan selatan Pendopo AKN sejak 1 sampai 10 November 2025.

Dalam karya itu, Ki Mujar menafsir ulang tokoh serta filosofi pewayangan melalui pendekatan visual modern yang memadukan cahaya, bayangan, hingga simbol ruang.

“Lewat Wayang Milenium Wae, kami ingin menunjukkan seni wayang tidak hanya bisa dilihat di panggung tradisional, tetapi juga dapat hidup dalam bentuk visual yang lebih dekat dengan generasi digital,” ujar Ki Mujar Sangkerta saat dihubungi Kamis (6/11/2025).

Ia menekankan pameran ini bukan sekadar bentuk eksperimen, namun sarana membangun pemahaman baru mengenai nilai moral dan filosofi yang terkandung dalam wayang.

Baca Juga: Absen di Derby Mataram, Pemain PSIM Jogja Pulga Vidal Alihkan Fokus ke Bhayangkara FC

Pameran itu juga menjadi ruang kolaborasi antara seniman muda dan akademisi. Di satu sisi, instalasi area utara pendopo menggambarkan transformasi karakter wayang dalam konteks sosial masa kini.

Di sisi lain, area selatan menampilkan karya dengan nuansa meditatif yang mengajak pengunjung merenungkan perjalanan batin manusia.

Festival Wayang di AKN tidak sebatas perayaan seni. Selama tiga hari, pengunjung dapat mengikuti workshop pedalangan, pementasan lintas generasi, hingga diskusi budaya bertema Wayang sebagai Ruang Dialog Antar Zaman.

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat transfer pengetahuan antara dalang senior, seniman muda, dan masyarakat.

Menurut Ki Mujar, regenerasi menjadi kunci utama keberlanjutan seni pewayangan.

Tantangan terbesar saat ini adalah mengajak generasi muda untuk terlebih dahulu merasa dekat dengan wayang.

Ketika mereka menyadari wayang mampu berbicara dalam bahasa zamannya, maka dorongan untuk ikut merawat dan melestarikannya akan tumbuh dengan sendirinya.

AKN Seni dan Budaya Jogjakarta melalui festival ini menunjukkan komitmennya dalam menjaga wayang sebagai warisan budaya yang diakui UNESCO.

"Wayang Milenium Wae menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Nilai-nilai luhur tetap dijaga, namun bahasa penyampaiannya disesuaikan agar tetap hidup,” tambahnya.  (cin/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#festival wayang #Seniman #regenerasi #AKN Yogyakarta #Wayang Milenium Wae