BANTUL – Musim hujan mulai membawa dampak pada pedagang sayur di pasar rakyat di Bantul.
Kondisi udara lembab membuat sayuran tidak tahan lama dan akhirnya membusuk, sehingga banyak pedagang mengalami kerugian setiap hari.
Seperti dialami Waginah Trekminah, pedagang sayur di Pasar Bantul.
Perempuan 60 tahun itu mengaku harus membuang hingga 25 kilogram sayuran per hari karena tak lagi layak jual. Sayuran membusuk sebelum sempat terjual.
"Setiap hari sering buang sayur karena busuk nggak bisa dijual," katanya saat ditemui di Pasar Bantul, Kamis (6/11/2025).
Waginah biasanya kulakan dari Pasar Giwangan sekitar 40 kilogram sekali ambil. Komoditasnya beragam, mulai dari wortel, kubis, terong, cabai, daun bawang, timun, tomat, hingga jipang.
Namun, musim hujan membuat sayuran cepat lembab dan mempercepat proses pembusukan.
Selain kerugian karena pembusukan, ia juga harus menanggung kenaikan harga sejumlah komoditas. Harga wortel misalnya, naik dari Rp 8 ribu menjadi Rp 13 ribu per kilogram.
Kubis dari Rp 2.500 menjadi Rp 4.500, terong dari Rp 3 ribu menjadi Rp 5 ribu, cabai merah dari Rp 17 ribu menjadi Rp 20 ribu, daun bawang dari Rp 5 ribu menjadi Rp 8 ribu, timun dari Rp 3.500 melonjak ke Rp 10 ribu.
Kemudian tomat dari Rp 5 ribu menjadi Rp 7.500, sementara jipang naik dari Rp 2.500 menjadi Rp 4 ribu per kilogram.
"Harganya naik juga jumlah pembelinya menurun, sebelumnya bisa sampai 50 orang per hari, sekarang ya sekitar 25 orang," imbuhnya.
Baca Juga: Waspada! Kota Jogja Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi hingga Akhir November
Keluhan serupa datang dari Tumirah, pedagang sayur lain di Pasar Bantul asal Padukuhan Jagan, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan.
Ia menuturkan, kualitas sayur di tingkat kulakan kondisinya tidak sebaik biasanya.
"Jadi kulakan dari Pasar Giwangan memang udah ada beberapa yang busuk," jelas wanita berumur 65 tahun ini.
Untuk mengurangi pembusukan, Tumirah harus mengangin-anginkan sayur selama tiga sampai lima jam setiap hari sebelum dipajang di lapak.
Meski begitu, tetap banyak sayuran yang harus ia buang karena tidak layak jual.
Ia mengaku kondisi tersebut membuat pedagang harus bekerja ekstra menyortir sayur agar tidak menjual komoditas yang rusak kepada pembeli. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita