BANTUL - Petani di Potorono, Banguntapan masih mengkhawatirkan serangan hama tikus. Sebab musim tanam sebelumnya, hampir dua ribu hektare lahan padi gagal panen di wilayah ini.
Bahkan, gagal panen tidak hanya dirasakan sekali oleh petani. Seperti yang dialami petani Padukuhan Salakan, Potorono Poniman, 73. Dia mengaku, serangan hama tikus sudah terjadi cukup lama. Bahkan pada beberapa musim, dia gagal panen karena padi habis dimakan tikus.
“Hama tikus masih ada sampai sekarang. Harus ada obat yang benar-benar bisa ngusir tikus. Soalnya sudah beberapa kali musim nggak panen,” keluhnya.
Sementara itu Staf Ulu-Ulu Kalurahan Potorono Nur Diantoro menyebut, upaya pengendalian tikus sebenarnya sudah dilakukan warga dengan berbagai cara. Salah satunya menggunakan emposan atau pengasapan di lubang sarang tikus. Namun cara itu belum membuahkan hasil maksimal.
“Tikus itu sekali ada yang mati, malah menyebar dan tambah banyak. Dulu juga pernah pakai emposan, tapi malah makin banyak,” bebernya.
Pemerintah kalurahan sendiri, lanjut Nur, lebih banyak berperan dalam pendampingan dan fasilitasi. Salah satunya lewat kelompok gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang rutin melakukan pertemuan setiap bulan.
“Lewat gapoktan juga bisa saling sharing soal hama. Semua sembilan padukuhan di Potorono ini merasakan serangan tikus,” ungkapnya.
Ia menilai, penanganan seharusnya dilakukan serempak lintas wilayah agar efektif. “Sekarang memang belum (terjadi gagal panen, Red) karena masih musim tanam. Tapi musim kemarin kendalanya ya tikus,” ungkapnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita