BANTUL - Pengolahan sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran dinilai belum maksimal. Namun, Bupati Bantul Abdul Halim Muslim menyebut hal ini bukan tanpa alasan. Banyaknya sampah basah yang masuk membuat pembakaran tidak bisa dilakukan secara optimal.
"Lain halnya kalau sampah yang masuk merupakan sampah kering, proses pembakaran sampah di ITF Bawuran bisa berlangsung optimal," lontarnya saat ditemui setelah acara peringatan Hari Santri di Lapangan Paseban, Bantul Rabu (22/10).
Lanjutnya, kapasitas mesin pengolahan sampah Kapanewon Pleret ini seharusnya bisa membakar lebih dari 50 ton sampah per hari. Namun, sampai saat ini, mesin baru bisa membakar sampah sekitar 25 ton per hari.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengatakan, kandungan sampah di ITF Bawuran melebihi ambang batas. Sehingga mesin bisa menjadi berat dan susah beroperasi. “Kandungan airnya tinggi dan bercampur, artinya, dari hulu, sampahnya pada tidak dipilah," katanya.
Jika kadar air dalam sampah terlalu tinggi, proses pengolahan dan pembakaran menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kinerja peralatan yang digunakan. "Karena kalau sampah campur jadi satu, gado-gado, kelet (lengket) di mesinnya, mesinnya enggak mau jalan," jelasnya.
Ia menambahkan, petugas juga sempat menemukan jenis sampah korosif di ITF Bawuran. Keberadaan sampah tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan karat pada mesin pembakaran dan berpengaruh terhadap umur teknis mesin.
"Jadi, kalau bisa sampah yang diolah menggunakan mesin pembakaran bukan besi, bukan kayu, bukan aluminium, dan sejenisnya," sebutnya.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya mengeluarkan edaran terkait kebijakan pengolahan sampah dari hulu. Langkah tersebut dimaksudkan agar proses pemilahan antara sampah organik dan anorganik dapat dilakukan sejak awal. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita