Saat mengunjungi pengelolaan sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran, HB X mengungkapkan kekecewaanya. Itu karena kapasitas pengolahan sampah yang tidak sesuai yang dijanjikan sebelumnya.
"Dulu kan bicaranya mayoritas 40 ton (per hari), tapi kan faktanya tidak," katanya saat berkunjung ke ITF Bawuran Selasa (21/10).
Ayah lima puteri itu mengaku, berdasarkan kondisi di lapangan, saat ini ITF Bawuran baru mampu menampung sekitar 25 ton sampah per hari. "Jadi kita kan pabrik itu belum bisa jamin," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Perumda Aneka Dharma Yuli Budi Sasangka mengatakan, kapasitas sampah di ITF Bawuran baru bisa menampung sekitar 25 sampai 30 ton sampah perhari. Dia mengakui, di awal memang sempat menyampaikan kapasitas pengolahan sampah bisa melebihi kapasitas.
“Tapi perjalannya kita tetap berproses untuk menuju ke arah itu, kita melihat belum ada yang sesempurna itu," tuturnya.
Memang, lanjutnya, operasional pengelolaan sampah di ITF Bawuran belum sepenuhnya sesuai dengan rencana bisnis yang telah disusun. Dia mengklaim, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di ITF Bawuran, tetapi juga di beberapa lokasi lainnya.
Meski demikian, fasilitas tersebut sudah beroperasi dan berkontribusi dalam mengurangi persoalan sampah di tiga kabupaten dan kota di DIJ. "Kami sudah jalankan tiga sif meskipun sif ketiga itu masih belum terlalu optimal," katanya.
Terkait asal sampah, sebanyak 25 hingga 30 ton sampah per hari yang masuk berasal dari Kota Jogja sekitar dua hingga tiga truk per hari, dari Bantul dua truk per hari, dan sisanya berasal dari pihak swasta dengan kapasitas rata-rata lima ton per truk.
Ia meyakini, jika fasilitas pengolahan sampah seperti ITF Bawuran dapat diperbanyak, persoalan sampah di DIJ, khususnya di Kota Jogja, Bantul dan Sleman, bisa lebih teratasi.
Saat kunjungan Gubernur DIJ ke ITF Bawuran ia juga menjelaskan proses pengolahan sampah dari pemilahan sampai dengan proses insinerator. (cin/pra)
Editor : Heru Pratomo