BANTUL – Di tangan Siti Rahma Yuliyati, 63, potongan kayu sederhana bisa diubah menjadi mainan edukatif yang ramah lingkungan. Melalui usaha yang ia beri nama Yungki Edutoys, warga Sampangan, RT 16 Baturetno, Banguntapan itu memproduksi berbagai mainan anak berbahan kayu yang aman dan bermanfaat untuk tumbuh kembang anak.
Usaha yang ia rintis sejak 2010 ini, awalnya dijalankan halaman belakang rumahnya sebagai tempat produksi. “Setelah itu bisa ngontrak di gedung kuning selama 10 tahun,” kenangnya saat ditemui di rumah produksinya Senin (20/10).
Baca Juga: Gelapkan Gaji Karyawan, Warga Kraton Terancam Lima Tahun Penjara
Setelah mengontrak, ia membangun sendiri ruang produksi di dekat rumahnya. Siti menjelaskan, produk mainan yang dihasilkan Yungki Edutoys didesain aman bagi anak-anak, terutama untuk usia taman kanak-kanak (TK) dan PAUD.
Semua produk menggunakan cat berbahan dasar air, bukan tiner, sehingga tidak beracun dan aman jika tersentuh atau terhirup oleh anak.
Baca Juga: Ada Rasionalisasi Anggaran, Gaji PPPK Paruh Waktu di Sleman Belum Tentu Naik sesuai UMK
“Mainan anak-anak ini membantu perkembangan motorik, merangsang indera, visual, dan kognitif mereka,” terangnya.
Semangat berwirausaha Siti berawal dari tradisi keluarga yang telah lama berkecimpung di bidang kerajinan. Sejak remaja, ia sudah terbiasa membantu orang tuanya membuat mainan.
Setelah menikah, Siti memutuskan untuk mengembangkan keterampilannya dengan mendirikan usaha mainan anak edukatif berbahan kayu yang ramah lingkungan. Ia mengaku, langkah tersebut mendapat restu penuh dari keluarga dan menjadi titik awal lahirnya Yungki Edutoys.
Baca Juga: Nuradi Indrawijaya Terpilih Jadi Ketua Percasi Sleman Periode 2025-2029
Saat ini, Yungki Edutoys memproduksi lebih dari 200 jenis mainan, mulai dari puzzle dua dan tiga dimensi, menara balok, hingga permainan metamorfosis hewan. Harganya bervariasi, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung bahan dan tingkat kesulitan.
Dalam proses pembuatan, setiap mainan dikerjakan secara teliti. “Kalau bikin puzzle, pertama dipola dulu, lalu dibor, digergaji sesuai bentuk, kemudian dilem dan diamplas sebelum dicat,” jelasnya.
Untuk warna, Siti menyesuaikan dengan desain, misalnya kelinci berwarna putih atau kombinasi warna lain sesuai bentuknya.
Baca Juga: Nuradi Indrawijaya Terpilih Jadi Ketua Percasi Sleman Periode 2025-2029
Produk-produknya banyak diminati oleh sekolah-sekolah TK dan PAUD di berbagai daerah. “Pasarnya sekolah-sekolah, Alhamdulillah dulu permintaan banyak,” kata Siti.
Sebelum pandemi Covid-19, usahanya sempat berkembang pesat. Produknya dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan kerap mengikuti pameran pemerintah dan Kongres IGTK di Jakarta.
Namun, pandemi membawa pukulan besar bagi usahanya. Meski begitu, Siti tidak menyerah. Penjualan ke perorangan masih ada, meskipun jumlahnya kecil. Ia tetap berusaha mempertahankan usaha dengan tanggung jawab terhadap 15 karyawan yang telah lama bekerja bersamanya.
Baca Juga: Kalahkan SMAN 2 Yogyakarta, SMAN 1 Bantul Pastikan Diri Lolos ke Babak Play-off DBL Yogyakarta
“Selama beberapa tahun tidak ada pemasukan, tapi saya tetap menggaji karyawan. Lama-lama saya tidak tahan juga karena barang menumpuk dan keuangan menipis,” ungkapnya.
Sejak April tahun ini, Siti terpaksa memberhentikan sebagian karyawannya. Kini, dia hanya memiliki tujuh orang untuk memproduksi furnitur anak-anak seperti meja, kursi, dan perlengkapan untuk tempat penitipan anak (daycare).
Langkah ini menjadi upaya diversifikasi agar tetap bertahan. “Saya ingin memperluas usaha ke daycare. Sekarang yang tujuh orang itu saya libatkan membuat perabot untuk keperluan daycare yang Insya Allah mulai dibuka Januari nanti,” tuturnya.
Meski usaha mainannya kini mengalami penurunan penjualan Siti tetap aktif berproduksi. Ia masih membuka pemesanan dan mengandalkan promosi lewat pameran dan media sosial seperti TikTok.
“Produksi tetap jalan, walau barang belum banyak keluar. Tapi saya yakin, mainan edukatif seperti ini tetap dibutuhkan,” katanya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita