Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Larangan Ekspor Udang ke Amerika Serikat Berdampak pada Petambak di Bantul, Harga Kini Jadi Turun

Cintia Yuliani • Senin, 20 Oktober 2025 | 13:30 WIB
KENA EFEK: Tambak udang tidak jauh dari Pantai Tanggul Tirto, Poncosari, Srandakan, Bantul.
KENA EFEK: Tambak udang tidak jauh dari Pantai Tanggul Tirto, Poncosari, Srandakan, Bantul.

BANTUL - Kebijakan larangan ekspor udang ke Amerika Serikat (AS) akibat ditemukannya pencemaran radioaktif, berdampak langsung bagi petambak udang di Kabupaten Bantul. Penurunan harga serta pembatasan pengambilan hasil panen menjadi efek yang kini dirasakan para petambak.

"Secara dampak yang kita rasakan sih terutama langsung berpengaruh ke harga. Harga udang turun,” jelas petambak udang Yuda Witjarnoko saat ditemui di lokasi tambaknya, Rabu (15/10).

Yuda yang memiliki tambak di dekat Pantai Tanggul Tirto, Kuwaru, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan ini mengatakan, dampak dari larangan ekspor itu sebenarnya sudah mulai terasa sejak tiga bulan lalu. “Harga itu turun sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu,” ujarnya.

Menurutnya, harga udang yang semula berada di kisaran Rp 52 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp 45 ribu per kilogram.

Selain harga, Yuda juga mengaku para suplayer membatasi jumlah udang yang mereka ambil sehingga penjualan tidak selancar sebelumnya.

"Karena 70 persen udang yang ada di Indonesia ini kan masuk ke Amerika. Yang diekspor oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS), jadi kebanyakan terdampak,” katanya.

Ia menambahkan, sejak BMS menutup aktivitas ekspor, udang dari tambak kini dialihkan ke pasar lokal. "Hubungannya nanti sama supply dan demand. Ketika supply-nya banyak, harganya pasti akan turun,” jelasnya.

Hingga saat ini BMS masih menutup kegiatan ekspor udang ke Amerika Serikat. Kondisi itu berdampak langsung pada rantai penjualan di tingkat petambak.

Jika sebelumnya hasil panen banyak diserap untuk kebutuhan ekspor, kini para petambak hanya mengandalkan pembelian dari suplayer lokal. Sebagian besar dikirim ke sejumlah kota besar seperti Jogjakarta, Semarang, Bandung, dan Jakarta.

"Sekarang yang ditunggu peran pemerintah untuk membantu melobi pihak Amerika agar mau menerima udang kita lagi,” ujarnya.

Terkait kebijakan itu, Yuda menyebut para petambak masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah dan eksporter.

Meski demikian, Yuda memastikan produksi udang di tambaknya tetap berjalan normal. Hanya saja, penurunan harga membuat keuntungan petambak semakin kecil.

Ia berharap harga segera normal kembali, agar bisa budi daya tanpa memikirkan harga di akhir panen.

Senada, operasional petambak udang lain di kawasan Pantai Tanggung Tirto, Ferri Setiawan, menjelaskan  sebagian besar udang Indonesia memang ditujukan untuk ekspor. Dan salah satu pasar terbesar adalah Amerika Serikat. “Kebetulan kemarin pengiriman yang dilakukan PT BMS itu kan ada pencemaran radioaktif,” ujarnya.

Namun, Ferri menegaskan, udang hasil budi daya di Indonesia aman dari pencemaran radioaktif. Setelah dilakukan penyelidikan mendalam, ternyata pencemarannya bukan dari produksi udang atau proses di pabrik, tapi dari kontainer pengiriman yang digunakan ke AS.

Ferri berharap ke depan proses pengiriman ekspor bisa dilakukan lebih selektif. Menurutnya, saat ini pengiriman udang ke AS masih dimungkinkan, asalkan dokumen pelengkap seperti sertifikat bebas cemaran radioaktif terpenuhi.

"Kalau terkait persyaratan yang diminta Amerika ya kita tetap mendukung. Soalnya kita juga tergantung pada suplayer-suplayer itu,” tutupnya. (cin/laz)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Pencemaran radioaktif #ekspor #srandakan #kuwaru #Pantai Tanggul Tirto #petambak udang #udang #Amerika Serikat #Poncosari #eksporter #larangan ekspor